Jumat, 10 Juni 2016

Pengertian Teori Komunikasi Organisasi, Latar belakang Teori Organisasi, Pencetus Teori Organisasi, Asumsi Teori Organisasi

2.4 Teori Komunikasi Organisasi

      2.4.1 Definisi Teori Komunikasi Organisasi

Ada beberapa macam pendapat mengenai apa yang dimaksud dengan organisasi. Schein (1982) mengatakan bahwa organisasi adalah suatu koordinasi rasional kegiatan sejumlah orang untuk mencapai beberapa tujuan umum melalui pembagian pekerjaan dan fungsi melalui hierarki otoritas dan tanggung jawab Schein juga mengatakan bahwa organisasi mempunyai karakteristik tertentu yaitu mempunyai struktur, tujuan, saling berhubungan satu sama lain dan tergantung kepada komunikasi manusia untuk mengkoordinasikan aktivitas dalam organisasi tersebut. Sifatv tergantung antara satu bagian lain menandakan bahwa organisasi yang dimaksud Schein ini adalah merupakan suatu sistem. (Muhammad Arni, 2005:23).
Selanjutnya Kochler (1976) mengatakan bahwa organisasi adalah sistem hubungan yang konstruktur yang mengkoorduinasi usaha suatu kelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu. Lain lagi dengan pendapat Wright (1977); dia mengatakan bahwa organisasi adalah suatu bentuk sistem terbuka dari aktivitas yang dikoordinasi oleh dua atau lebih untuk mencapai suatu tujuan bersama.
Walaupun ketiga pendapat mengenai organisasi berbeda-beda perumusannya tapi ada 3 hal yang sama-sama dikemukakan yaitu : organisasi merupakan suatu sisterm, mengkoordinasi aktivitas dan mencapai tujuan bersama atau tujuan umum. Dikatakan merupakan suatu sistem karena organisasi itu terdiri dari berbagai bagian yang saling tergantung satu sama lain. Misalnya kita lihat organisasi di sekolah. Di sekolah ada beberapa komponen diantaranya guru, murid, dan fasilitas. Bila pada komponen guru mendapat ganguan misalnya tidak datang ke sekolah atau sakit maka akan berpengaruh kepada anak-anak yang menjadikan mereka tidak dapat belajar begitu juga halnya fasilitas belajar tidak jadi digunakan.
Everet M.Rogers dalam bukunya Communication in Organization, mendefinisikan organisasi sebagai suatu sistem yang mapan dari mereka yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, melalui jenjang kepangkatan, dan pembagian tugas. Robert Bonnington dalam buku Modern Business: A Systems Approach, mendefinisikan organisasi sebagai sarana dimana manajemen mengoordinasikan sumber bahan dan sumber daya manusia melalui pola struktur formal dari tugas-tugas dan wewenang.
Menurut pendapat (Rogers dan rogers, dalam Henneman dan McEwen, 1975, hlm. 218). Organisasi didefinisikan “ suatau kumpulan atau suatu sistem individu yang bersama-sama, melalui hirarki pangkat dan pembagian kerja, berusaha untuk mencapai tujuan tertentu” .
Ada beberapa hal terpenting dalam komunikasi organisasi yang sesuai dengan definisi diatas:
Dapat dikatakan bahwa organisasi merupakan suatu paduan dari bagian-bagian yang satu sama lain saling bergantung. Dalam komunikasi organisasi akan erat kaitannya dengan suatu kekuasaan, arus pesan, dan perilaku karena melibatkan jumlah orang yang tidak sedikit dalam setiap organisasinya.
Menurut Gold Haber, Komunikasi organisasi adalah arus pesan dalam suatu jaringan yang sifat hubungannya saling bergantungan satu sama lain. Arus pesan yang digunakan bersifat, yaitu :
1.      Vertikal
2.      Horizontal
3.      Diagonal.
Secara fungsional, komunikasi organisasi dapat didefinisikan sebagai pertunjukan dan penafsiran pesan di antara unit-unit komunikasi yang merupakan bagian dari suatu organisasi tertentu. Komunikasi organisasi dapat terjadi kapanpun, setidaknya satu orang yang menduduki suatu jabatan dalam suatu organisasi akan menafsirkan suatu pertunjukkan. Sedangkan secara tradisional, komunikasi organisasi cenderung dianggap menekankan kegiatan penanganan pesan yang terkandung dalam suatu “batas organisasional (organizational boundary)”. Dalam hal ini komunikasi organisasi dipandang dari suatu perspektif interpretif (subjektif) adalah proses penciptaan makna atas interaksi yang merupakan organisasi.
Komunikasi organisasi erat kaitannya dengan kekuasaan. Maka dari itu French dan Reven membagi lima tipe kekuasaan, antara lain :
Reward Power, memusatkan perhatian pada kemampuan untuk memberi ganjaran atau imbalan atas pekerjaan atau tugas yang dilakukan orang lain.
Coercive Power, lebih memusatkan pandangan pada kemampuan untuk memberi hukuman kepada orang lain.
Referent Power, didasarkan pada suatu hubungan kesukaan dalam arti seseorang mengidentifikasi orang lain yang mempunyai kualitas atau persyaratan seperti yang diinginkannya.
Expert Power, memfokuskan diri pada suatu keyakinan bahwa seseorang yang mempunyai kekuasaan pastilah ia memiliki pengetahuan, keahlian, dan informasi lebih banyak dalam suatu persoalan.
Legitimate Power, bersandar pada struktur suatu organisasi, dan terutama pada nilai-nilai kultural.
Conrad (1985) mengidentifikasikan tiga fungsi komunikasi didalam sebuah organisasi. Fungsi-fungsi tersebut adalah :
Fungsi Perintah
Komunikasi memperbolehkan anggoa organisasi “ Membicarakan, menerima, menafsirkan, dan bertindak atas suatu perintah”. Dua jenis komunikasi yang mendukung pelaksanaan tugas ini adalah pengarahan dan umpan balik dari kiomunikan, dan tujuannya adalah adalah berhasil mempengaruhi anggota laindalam organisasi. Hasil fungsi perintah adlah koordinasi di antara sejumlahb anggota yang saling bergantung dalam organisasi tersebut.
Fungsi Relasional
Komunikasi memperbolehkan anggota organisasi “ menciptakan dan mempertahankan bisnis produktif dan hubungan personal dengan anggota organisasi lain”. Hubungan dalam pekerjaan mempengaruhi kinerja pekerjaan (job peformance) dalam berbagai cara, misalnya, kepuasana kerja, aliran komunikasi kebawah maupun ke atas dalam hirarki organisasional dan tingkat pelaksanaan perintah.
Fungsi Manajemen ambigu
Pilihan dalam situasi organisasi sering dibuat dalam keadaan yang sangat ambigu. Misalnya, motivasi berganda telah muncul karena pilihan yang diambil akanmempengaruhi rekan kerja dan organisasi, demikian juga diri sendiri: tujuan organisasi tidak jelas, dan konteks yang mengharuskan adanya pilihan tersebut mungkin tidak jelas.
Faktor lain yang ditemukan oelh Dennis (1975) dengan kategori-kategori tradisional untuk menganalisis komunikasi organisasi, diantaranya :
Komunikasi Ke Bawah
Komunikasi ini diprakarsai oleh manajemen organisasi tingkat dan kemudian ke bawah melewati “rantai perintah”. Banyak penelitian mengenai keefektifan berbagai bentuk komunikasi ke bawah menunjukan bahwa menggunakan saluran kombinasi cenderung memberikan hasil yang terbaik. Penelitian yang dilakukan oleh Dahle (1954) menemukan bahwa uruan saluran menurut tingkat keefektifannya (dari yang efektifitasnya paling tinggi hingga yang paling rendah) diantaranya sebgai berikut :
1.      Kombinasi tulisan
2.      Lisan saja
3.      Tulisan saja
4.      Papan pengumuman
5.      Selentingan
Dengan kata lain, untuk menyampaikan informasi kepada para pegawai dengan tepat, kombinasi saluran tulisan dan memberi hasil terbaik.
Komunikasi ke atas.
Komunikasi dari bawahan ke atasan. Komunikasi tipe ini umumnya bertujuan untuk melakukan kegiatan prosedural yang sudah merupakan bagian dari struktur organisasi atau perusahaan. Bentuknya antara lain dalam pelaporan kegiatan, penyampaian gagasan, dan penyampaian informasi yang menyangkut masalah-masalah pekerjaan. Bisa dilakukan secara langsung dan tak langsung atau secara tertulis. Dalam organisasi pembelajaran, model komunikasi seperti ini sudah biasa dilakukan. Kepada semua karyawan didorong untuk tidak segan-segan menyampaikan hal apapun kepada atasan sejauh dalam kerangka pengembangan perusahaan.
Komunikasi Organisasi terjadi dalam suatu system terbuka yang kompleks yang dipengaruhi oleh lingkungannya sendiri baik internal & eksternal, Komunikasi Organisasi meliputi pesan & arus, tujuan dan media, Komunikasi Organisasi meliputi orang & sikapnya, perasaaan, hubungan dan keterampilannya.
Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi. Komunikasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh organisasi itu sendiri dan sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa cara kerja di dalam organisasi, produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang harus dilakukan dalam organisasi. Misalnya: memo, kebijakan, pernyataan, jumpa pers, dan surat-surat resmi. Adapun komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui secara sosial. Orientasinya bukan pada organisasi, tetapi lebih kepada anggotanya secara individual.

     2.4.2 Asumsi Teori Komunikasi Organisasi

Sosiolog Amitai Etzioni menyatakan bahwa masyarakat kita adalah masyarakat organisasi. Kita dilahirkan dalam sebuah organisasi dan dididik dalam suatu organisasi serta sebagian besar dari kita menghabiskan mayoritas hidupnya dengan bekerja untuk organisasi. Komunikasi organisasi akan selalu dibutuhkan pada era sekarang ini. Alasannya karena kini, makin banyak lembaga baik di bidang bisnis ataupun industri, organisasi-organisasi sosial, ataupun institusi pendidikan yang harus mengetahui bagaimana prinsip mengenai komunikasi yang baik dalam suatu organisasi untuk suatu pencapaian bersama. Dalam komunikasi organisasi berkaitan erat dengan arus komunikasi.
Ada tiga pendekatan untuk melihat komunikasi yang terjadi di dalam organisasi, yaitu :
1.      Pendekatan Makro :
Pendekatan makro melihat organisasi sebagai suatu struktur global yang berinteraksi dengan lingkungannya. Organisasi melakukan aktivitas-aktivitasnya untuk berinteraksi dengan lingkungannya.
2.      Pendekatan Mikro :
Pendekatan ini terutama menfokuskan kepada komunikasi dalam unit dan sub-unit pada suatu organisasi. Komunikasi yang diperlukan pada tingkat ini adalah komunikasi antara anggota kelompok
3.      Pendekatan Individual :
Pendekatan Individual menitik beratkan pada tingkah laku komunikasi individual dalam organisasi. Semua tugas-tugas yang telah diuraikan pada dua pendekatan sebelumnya diselesaikan oleh komunikasi individual satu sama lainnya.

     2.4.3 Teori-teori Komunikasi Organisasi; Pencetus Teori dan Latar Belakang Teori.

2.4.3.1 Teori Komunikasi Kewenangan

Teori Komunikasi Kewenangan dikemukakan oleh Chester Barnard, seorang presiden dari Bell Telephone Company di New Jersey, Amerika Serikat. Barnard mengungkapkan sebuah tesis yang menyatakan bahwa sebuah organisasi hanya dapat berlangsung dengan adanya suatu kerja sama antarmanusia. Kerja sama dijadikan sebuah sarana di mana kemampuan individu dapat dikombinasikan untuk mencapai tujuan bersama. Sejarah dari adanya teori komunkasi kewenangan bermula dari Perrow (1938) yang merasa prihatin mengenai implikasi teori klasik mengenai organisasi dan doktrin ilmiah manajemen, di mana birokrasi dianggap sebagai suatu hal kotor. Namun, sejak Barnard (1973) mampublikasikan The Functions Of The Executive, sejak inilah mulai muncul pemikiran baru tentang birokrasi. Bernard menyatakan bahwa organisasi adalah sistem orang, bukan struktur yang direkayasa secara mekanis. Suatu struktur yang mekanis yang jelas dan baik tidaklah cukup.
Definisi Barnard mengenai organisasi formal menitikberatkan konsep sistem dan konsep orang. Tekanannya pada aspek-aspek kooperatif organisasi mencerminkan pentingnya unsur manusia. Barnard menyatakan bahwa eksistensi suatu organisasi bergantung pada kemampuan manusia untuk berkomunikasi dan kemauan untuk bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan yang sama pula. Maka ia menyimpulkan bahwa “Fungsi pertama seorang eksekutif adalah mengembangkan dan memelihara suatu sistem komunikasi.”
Bernand juga menyatakan bahwa kewenangan merupakan suatu fungsi kemauan untuk bekerja sama. Ia menyebutkan empat syarat yang harus dipenuhi sebelum seseorang menerima suatu pesan yang bersifat otoritatif:
Orang tersebut memahami pesan yang dimaksud
Orang tersebut percaya bahwa pesan tersebut tidak bertentangan dengan tujuan organisasi.
Orang tersebut percaya, pada saat ia memutuskan kerja sama, bahwa pesan tersebut sesuai dengan minatnya.
Orang tersebut memiliki kemampuan fisik dan mental untuk melaksanakan pesan.
Seperangkat premis ini menjadi terkenal sebagai Teori Penerimaan Kewenangan, yakni kewenangan yang berasal dari tingkat atas organisasi sebenarnya merupakan kewenangan nominal. Namun, Barnard menunjukan bahwa banyak pesan yang tidak dapat dianalisis, dinilai dan diteima, atau ditolak dengan sengaja. Tetapi kebanyakan arahan, perintah dan pesan persuasive termasuk ke dalam zona acuh-tak-acuh (zone of indifference) seseorang.
Asumsi dasar dari adanya teori ini yaitu bahwa organisasi adalah sistem orang, bukan struktur yang direkayasa secara mekanis. Dari definisi organisasi yang diungkapkan oleh Barnard inilah, suatu sistem kegiatan dua orang atau lebih yang dilakukan secara sadar dan terkoordinasi menitikberatkan pada konsep sistem dan konsep orang. Barnard juga menyatakan bahwa eksistensi yang dimiliki suatu organisasi tergantung pada kemampuan anggota-anggota yang terlibat untuk berkomunikasi dan berkemauan untuk bekerja samauntuk mencapai suatu tujuan bersama. Adapula kewenangan sebagai suatu fungsi kemauan untuk bekerja sama. Ada empat syarat yang harus dipenuhi sebelum seseorang menerima pesan yang otoritatif, yaitu :
Harus memahami pesan yang dimaksud.
Memastikan dan percaya bahwa pesan tersebut tidak bertentangan dengan tujuan organisasi.
Memastikan bahwa ketika ia memutuskan untuk bekerja sama, pesan tersebut telah sesuai dengan minatnya.
Memiliki kemampuan fisik dan mental untuk menjalankan pesan.
Barnard membagi teori komunikasi kewenangan menjadi dua bagian, yaitu :
Penerimaan suatu kewenangan dan penolakan suatu kewenangan, dengan menerima suatu kewenangan berupa pesan maka ia menduduki posisi bawahan.
Penolakan suatu kewenangan dengan penolakan suatu kewenangan berupa pesan diartikan bahwa orang tersebut khawatir akan resiko yang akan diterimanya.
Barnard juga menyatakan bahwa teknik-teknik komunikasi baik berupa lisan ataupun tulisan sangat penting untuk pencapaian tujuan namun juga dapat menjadi sumber masalah dalam suatu organisasi.

2.4.3.2Teori Sistem Sosial

Teori sistem memandang organisasi sebagai kaitan bermacam-macam komponen yang saling tergantung satu sama lain dalam mencapai tujuan organisasi. Setiap bagian mempunyai peranan penting masing-masing dan berhubungan dengan bagian-bagian lain dan karena itu koordinasi penting dalam teori ini.
Organisasi sebagai Suatu Sitem Sosial
Pendekatan sosial sebagai tingkah laku organisasi adalah suatu prespektif yang komperhensif, multidimensional, dan deskriptif mengenai organisasi. Ahli-ahli teori sistem mengemukakan bahwa semua kesatuan yang terorganisir memperlihatkan satu set pola dan sifat yang sama. Teori sistem berkembang sebagai suatu alat untuk menguraikan sifat-sifat dan pola-pola yang menjadikan organisasi terjadi.
Teori Sistem Umum Organisasi
Teori sistem yang umum mengatakan bahwa organisasi sebagai suatu set bagian-bagian yang kompleks yang saling berhubungan dan berinteraksi untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang selalu berubah agar dapat mencapai tujuannya. Beberapa komponen kunci yang membangun organisasi adalah individu yang menjadi anggota organisasi, struktur, dan kelompok fungsional, teknologi, dan perlengkapan organisasi. Semua bagian sistem tergantung kepada bagian lainnya dalam aktivitas organisasi. Suatu perubahan atau pengaruh pada komponen akan mempengaruhi kepada komponen sistem yang lainnya.

2.4.3.3 Teori Lapangan Tentang Kekuasaan

Teori ini dikembangkan oleh Cartwright dari pernyataan Kurt Lewin (1951) yang mendefinisikan kekuasaan sebagai bentuk kekuasaan A atas B yang artinya X berubah menjadi Y yang dalam prosesnya akan ada paksaan untuk mengikuti A. Cartwright kemudian mereformulasikan definisi kekuasaan sebagai kekuasaan A atas B dalam rangka mengubah X menjadi Y pada waktu tertentu sama dengan kekuatan maksimum.
Asumsi Dasar dan Uraian Teori
Asumsi dasar dari teori lapangan tentang kekuasaan ini, yaitu bahwa dalam suatu organisasi akan ada yang berkuasa dan yang dikuasai. Dalam perjalanan komunikasi organisasinya antara yang berkuasa dan yang dikuasai bisa jadi dapat bekerja sama untuk pencapaian suatu tujuan namun bisa juga terjadi perpecahan yang akan menyebabkan suatu organisasi tidak dapat mencapai suatu tujuan yang diharapkan. Dalam teori ini, Cartwright juga membedakan antara kekuasaan dan kontrol. Dalam teori ini juga, Cartwright memberikan tujuh istilah primitif untuk penjabaran dari definisinya mengenai kekuasaan, yaitu :
Pelaku (agent) : Suatu satuan yang dapat menghasilkan pengaruh atau menderita akibat apa yang sedang dikerjakannya.
Tindakan pelaku (act of agent) : Peristiwa yang menimbulkan suatu pengaruh (efek).
Lokus (locus) : Suatu tempat dalam tata ruang.
Hubungan langsung (direct joining) : Merupakan suatu kemungkinan perpindahan langsung dari satu lokus ke lokus lain.
Dasar motif (motive base) : Energi bawaan yang menggerakkan tingkah laku untuk kebutuhan, dorongan, dan motif.
Besaran (magnitude) : Merupakan ukuran dari konsep-konsep yang berupa tanda plus (+) atau minus (-).
Waktu (time) : Menunjukkan berapa lama berlangsungnya suatu peristiwa.

Pengertian Teori Komunikasi Kelompok, Pencetus Teori Kelompok, Latar belakang Teori Kelompok, Asumsi Teori Komunikasi Kelompok


2.3 Teori Komunikasi Kelompok

2.3.1 Definisi Teori Komunikasi Kelompok

Kelompok adalah sekumpulan orang – orang yang terdiri darii tiga atau lebih. Kelompok memiliki hubungan yang intensif di antara mereka satu sama lainnya, terutama kelompok primer. Intensitas hubungan di antara mereka merupakan persyaratan utama yang dilakukan oleh orang-orang dalam kelompok tersebut. kelompok kecil adalah sekumpulan perorangan yang relatif kecil yang masing-masing dihubungkan oleh beberapa tujuan yang sama dan mempunyai derajat organisasi tertentu di antara mereka.
Menurut Dedy Mulyana kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut. Kelompok ini misalnya adalah keluarga, kelompok diskusi, atau suatu komite yang tengah berapat untuk mengambil suatu keputusan. Pada komunikasi kelompok, juga melibatkan komunikasi antarpribadi, karena itu kebanyakan teori komunikasi antarpribadi berlaku juga bagi komunikasi kelompok.
Menurut Anwar Arifin komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok “kecil” seperti dalam rapat, pertemuan, konperensi dan sebagainya (Anwar Arifin, 1984). Michael Burgoon (dalam Wiryanto, 2005) mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat. Dari dua definisi di atas mempunyai kesamaan, yakni adanya komunikasi tatap muka, dan memiliki susunan rencana kerja tertentu umtuk mencapai tujuan kelompok.
Karakteristik kelompok kecil adalah sebagai berikut :
Jumahnya cukup kecil sehingga semua anggota bisa berkomunikasi dengan mudah sebagai pengirim maupun penerima.
Para anggota kelompok harus dihubungkan satu sama lain dengan beberapa cara.
Di antara anggota kelompok harus ada beberapa tujuan yang sama.
Para anggota kelompok harus dihubungkan oleh beberapa aturan dan struktur yang terorganisasi.
Kelompok kecil melaksanakan kegiatannya dengan berbagai format. Format yang paling populer adalah panel atau meja-bundar, seminar, simposium, dan simposium-forum.
Panel atau Meja Bundar. Dalam format panel atau meja bundar, anggota kelompok mengatur diri mereka sendiri dalam pola melingkar atau semi-melingkar. Mereka berbagi informasi atau memecahkan permasalahan tanpa pengaturan siapa dan kapan mereka berbicara. Anggota akan memberikan kontribusinya jika mereka sendiri merasakan merasakan layak itu.
Seminar. Dalam seminar, anggota kelompok adalah “para pakar” dan berpartisipasi dalam format panel atau meja bundar. Perbedaannya adalah dalam seminar terdapat peserta yang anggotanya diminta untuk berkontribusi. Mereka ini bisa diminta untuk mengajukan pertanyaan atau memberikan beberapa umpan balik.
Simposium, setiap anggota menyajikan presentasi yang telah disiapkan, seperti halnya pidato di depan umum. Semua pembicara menilik dari aspek yang berbeda mengenai suatu topik. Dalam simposium, pemimpin akan memperkenalkan para pembicara, mengatur alur dari satu pembicara ke pembicara lain, dan bisa juga menyampaikan ringkasannya secara berkala.
Simposium-Forum. Simposium-forum terdiri dari dua bagian: simposium, dengan pembicara yang sudah disiapkan, dan forum, yang mempersilakan para hadirin untuk mengajukan pertanyaan dan dijawab oleh pembicara. Pimpinan akan memperkenalkan para pembicara dan menjadi moderator dalam acara tanya jawab.
Keberadaan suatu kelompok dalam masyarakat dicerminkan dengan adanya fungsi-fungsi yang dilaksanakannya. Fungsi-fungsi tersebut, antara lain fungsi hubungan sosial, fungsi pendidikan, fungsi persuasi, fungsi pemecahan masalah, fungsi pembuatan keputusan, dan fungsi terapi.
Berikut beberapa klasifikasi kelompok dan karakteristik komunikasinya menurut para ahli :
•         Kelompok primer dan sekunder.
Charles Horton Cooley pada tahun 1909 (dalam Jalaludin Rakhmat, 1994) mengatakan bahwa kelompok primer adalah suatu kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan akrab, personal, dan menyentuh hati dalam asosiasi dan kerja sama. Sedangkan kelompok sekunder adalah kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan tidak akrab, tidak personal, dan tidak menyentuh hati kita.
Jalaludin Rakhmat membedakan kelompok ini berdasarkan karakteristik komunikasinya :
Kualitas komunikasi pada kelompok primer bersifat dalam dan meluas. Dalam, artinya menembus kepribadian kita yang paling tersembunyi, menyingkap unsur-unsur backstage (perilaku yang kita tampakkan dalam suasana pribadi saja). Meluas, artinya sedikit sekali kendala yang menentukan rentangan dan cara berkomunikasi. Pada kelompok sekunder komunikasi bersifat dangkal dan terbatas.
Komunikasi kelompok primer lebih menekankan aspek hubungan daripada aspek isi, sedangkan kelompok primer adalah sebaliknya.
Komunikasi kelompok primer cenderung informal, sedangkan kelompok sekunder formal.
Komunikasi pada kelompok primer bersifat personal, sedangkan kelompok sekunder nonpersonal.
Komunikasi kelompok primer cenderung ekspresif, sedangkan kelompok sekunder instrumental.
•         Kelompok keanggotaan dan kelompok rujukan.
Theodore Newcomb (1930) melahirkan istilah kelompok keanggotaan (membership group) dan kelompok rujukan (reference group). Kelompok keanggotaan adalah kelompok yang anggota-anggotanya secara administratif dan fisik menjadi anggota kelompok itu. Sedangkan kelompok rujukan adalah kelompok yang digunakan sebagai alat ukur (standard) untuk menilai diri sendiri atau untuk membentuk sikap. Menurut teori, kelompok rujukan mempunyai tiga fungsi: fungsi komparatif, fungsi normatif, dan fungsi perspektif.
•         Kelompok deskriptif dan kelompok preskriptif
John F. Cragan dan David W. Wright (1980) membagi kelompok menjadi dua: deskriptif dan peskriptif. Kategori deskriptif melihat proses pembentukan kelompok secara alamiah. Berdasarkan tujuan, ukuran, dan pola komunikasi, kelompok deskriptif dibedakan menjadi tiga:
a.       kelompok tugas.
b.      kelompok pertemuan.
c.       kelompok penyadar.

2.3.2 Asumsi Komunikasi Kelompok

Para Psikolog Sosisal juga mengenal mode. Pada tahun 1960-an, tema uatama mereka adalah persepsi sosial. Pada dasawarsa ini berikutnya, tema ini memudaar. Studi tentang pembentukan dan perubhan sikap juga mengalami pasang surut. Pernah menjadi mode sampai tahun 1950-an, memudar pada dasawarsa berikutnya., dan populer lagi pada akhir 1970-an. Begitu pula study kelompok. Pada tahun 1940-an, ketika dunia dilanda perang, kelompok menjadi pusat perhatian. Setelah perang beralih ke individu, dan bertahan sampai dengan tahun 1970-an. Akhir 1970-an, minat yang tinggi tumbuh kembali pada study kelompok, dan seperti yang diramalkan oleh Steiner (1974) menjadi dominan pada tahun 1980-an. Para pendidik melihat komunikasi kelompok sebgai metode pendidikan yang efektif. Menemukan komunikasi kelompok sebagai wadah yang tepat untuk melahirkan ggasan kreatif, sedangkan para psikiater komunikasi kelompok sebagai wahana untuk memperbaharui kesehatan mental serat para ideolog juga menyaksiakan komunikasi kelompok sebgai sarana untuk meningkatkankesadaran politik ideologis. Minat yang tinggitelah memperkaya pengetahuan kita tentang berbagai jenis kelompok dan pengaruh kelompok pada perilaku kita.

      2.3.3 Teori-teori Komunikasi Kelompok; Pencetus Teori dan Latar
Belakang Teori.

2.3.3.1 Sosial Exchange Model (Model Pertukaran Sosial)

Dalam teori pertukaran sosial, interaksi manusia layaknya sebuah transaksi ekonomi : Anda mencoba untuk memaksimalkan manfaat dan memperkecil biaya. Diterapkan pada penetrasi sosial, Anda akan menyingkap informasi tentang diri Anda ketika rasio biaya manfaatnya sesuai bagi Anda.
Menurut Altman dan Taylor, rekan dalam berhubungan tersebut pada saat tertentu, tetapi juga menggunakan informasi yang ada pada mereka juga menggunakan informasiyang ada pada mereka untuk memperkirakan manfaat dan bioaya di masa yang akan datang. Selama manfaat lebih besar dari biayanya, pasangan tersebut akan semakin dekat dengan lebih banyak berbagi dan lebih banyak informasi pribadi.
Menurut Thibaut dan Kelley yang mengemukakan bahwa orang meng evaluasi hubungan dengan orang lain. Model ini memandang hubungan antarpersonal sebagai suatu transaksi dagang, maksudnya adalah orang hubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya.
Asumsi Dasar Sosial Exchange Model
Altman dan Taylor menyatakan ada empat tahap dalam pengembangan sosial dalam proses komunikasi dalam kehidupan manusia, diantaranya :
1.      Orientasi
Orientasi terdiri atas komunikasi tidak dengan orang tertentu, dimana seseorang hanya mengungkapkan informasi yang sangat umum. Jika manfaat ini bermanfaat bagi pelaku hubungan, mereka akan bergerak ke tahap selanjutnya, yaitu ketahap pertukaran afektif eksploratif.
2.      Pertukaran afektif eksploratif
Gerakan yang menuju sebuah tingkat yang lebih dalam dari pengungkapan yang terjadi.
3.      Pertukaran afektif
Pertukaran afektif terpusat pada perasaan mengkritik dan mengevaluasi pada tingkat yang lebih dalam. Thap ini tidak akan dimasuki kecuali mereka menerima manfaat yang besar yang sesuai dengan biaya dalam tahap sebelumnya.
4.      Pertukaran yang seimbang
Kedekatan yang tinggi dan memungkinkan mereka untuk saling memperkirakan tindakan dan respons dengan baik.
Menurut Thibaut dan Kelley, asumsi dasar yang mendasari seluruh analisisnya bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalm hubungan social hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan di tinjau dari beberapa segi, antara lain :
Ganjaran adalah setiap akibat yang dinilai positif yang diperoleh seseorang dari suatu hubungan.
Biaya adalah akibat yang dinilai negative yang terjadi dalam suatu hubungan.
Hasil atau laba adalah ganjaran dikurangi biaya
Tingkat perbandingan menunjukan ukuran baku (standar) yang dipaki sebagai criteria dalam menilai hubungan individu pada waktu sekarang.
Dengan mempertimbangkan konsekuensinya, khusus terhadap ganjaran yang diperoleh dan upaya yang telah dilakukan, orang akan memutuskan untuk tetap tinggal dalam hubungan tersebut atau meninggalkannya. Ukuran bagi keseimbangan antara ganjaran dan upaya ini disebut comparison levels, dimana di atas ambang ukuran tersebut orangkan merasa puas dengan hubungan.
Roloff (1981) mengemukakan bahwa asumsi tentang perhitungan antara ganjaran dan upaya tidak bahwa orang selalu berusaha untuk saling mengekploitasi, tetapi bahwa orang lebih memilih lingkungan dan hubungan yang dapat memberikan hasil yang diinginkan.
Hubungan yang ideal akan terjadi bilamana kedua belah pihak dapat saling memberikan cukup keuntungan sehingga berhubungan tersebut menjadi sumber yang dapat diandalkan bagi kepuasan kedua belah pihak.
Ada 4 konsep pokok dari teori pertukaran sosial, yaitu :
Pengorbanan  adalah elemen dari sebuah hubungan yang memiliki nilai negatif bagi seseorang
Penghargaan adalah elemen-elemen dalam sebuah hubungan yang memiliki nilai positif
Nilai akhir adalah suatu penilaian apakah seseorang akan meneruskan hubungannya atau mengakhirinya
Tingkat perbandingan yang menunjukkan ukuran baku yang dipakai sebagai kriteria dalam menilai hubungan individu pada waktu sekarang.
Inti dari teori pembelajaran sosial dan pertukaran sosial adalah perilaku sosial seseorang hanya bisa dijelaskan oleh sesuatu yang bisa diamati, bukan oleh proses mentalistik. Semua teori yang dipengaruhi oleh perspektif ini menekankan hubungan langsung antara perilaku yang teramati dengan lingkungan. Para teoritikus Pertukaran Sosial berpendapat bahwa semua orang menilai hubungan mereka dengan melihat pengorbanan dan penghargaan. Semua hubungan membutuhkan waktu dari partisipannya.
Hubungan yang positif adalah hubungan di mana nilainya merupakan angka positif; maksudnya, penghargaan lebih besar daripada pengorbanan. Hubungan di mana nilainya adalah angka negatif (pengorbanan melebihi penghargaan) cenderung negatif untuk para partisipannya.
Teori Pertukaran Sosial bahkan melangkah lebih jauh dengan memprediksikan bahwa nilai dari sebuah hubungan memengaruhi hasil akhir atau apakah orang akan meneruskan suatu hubungan atau mengakhirinya. Hubungan yang positif biasanya dapat diharapkan untuk bertahan, sedangkan hubungan yang negatif mungkin akan berakhir.

2.3.3.2 Fundamental Interpersonal Relations Orientation (FIRO)
Theory

Teori Fundamental Interpersonal Relations Orientation (FIRO) Theory ditemukan oleh William C. Schultz. Teori ini ditemukan pada tahun 1960 untuk menggambarkan hal dasar mengenai perilaku komunikasi di suatu kelompok kecil. Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang memasuki kelompok karena adanya tiga kebutuhan interpersonal, yaitu : inclusion, control, dan affection
Teori ini memiliki kesinambungan dari yang diuraikan oleh Cragan dan Wright bahwa ada dua dimensi interpersonal yang mempengaruhi keefektifan suatu kelompok, yaitu: kebutuhan interpersonal dan proses interpersonal yang meliputi keterbukaan (disclosure), percaya, dan empati. Awal dari teori ini yaitu minat Schutz terhadap pembentukan kelompok-kelompok kerja yang efektif. Pengamatan yang dilakukan Schutz sangat dipengaruhi oleh karya-karya Bion (1949) dan Redl (1942) sehingga tidak mengherankan teori yang diungkapkan oleh Schutz sangat berbau psikoanalisis.
Asumsi Dasar dan Uraian Teori
Ide pokok dari FIRO Theory adalah bahwa setiap orang mengorientasikan dirinya kepada orang lain dengan cara tertentu dan cara ini merupakan faktor utama yang mempengaruhi perilakunya dalam hubungan dengan orang lain dalam sebuh kelompok. Asumsi dasar dari teori ini adalah suatu individu terdorong untuk memasuki suatu kelompok karena didasari oleh beberapa hal, yaitu :
1.      Inclusion, yaitu keinginan seseorang untuk masuk dalam suatu kelompok. Dalam posisi ini, seseorang cenderung berpikir bagaimana cara mereka berinteraksi dalam lingkungan kelompok yang baru ini, seperti sikap apa yang akan saya ambil jika saya memasuki kelompok ini. Dalam situasi ini, akan ada dua kemungkinan yang akan dilakukan, yaitu bereaksi berlebihan (over-react) seperti mendominasi pembicaraan, dan bereaksi kekurangan (under-react) seperti lebih sering mendengarkan atau hanya ingin membagi sebagian kisah hidup kepada orang-orang yang dipercayai saja.
2.      Control, yaitu suatu sikap seseorang untuk mengendalikan atau mengatur orang lain dalam suatu tatanan hierarkis. Dalam posisi ini pembagian kerja seperti sangat dibutuhkan untuk menghasilkan sesuatu yang produktif. Situasi ini dapat menciptakan beberapa sikap, yaitu otokrat (sikap individu yang memiliki kecenderungan lebih kuat atau mendominasi dari pada anggota kelompok lainnya), dan abdikrat (sikap individu yang menyerah dan cenderung mengikuti apa yang dikatakan oleh individu yang mendominasi).
3.      Affection, yaitu suatu keadaan dimana seseorang ingin memperoleh keakraban emosional dari anggota kelompok yang lain. Dalam situasi ini, seseorang membutuhkan kasih sayang sebagai suatu pendukung dalam menyelesaikan pekerjaannya. Sikap seperti ini akan menciptakan overpersonal (suatu keadaan dalam diri individu dimana tidak dapat mengerjakan pekerjaan karena tidak adanya ikatan kasih sayang), dan underpersonal(suatu keadaan dalam diri individu dimana tidak adanya kasih sayang yang diberikan anggota lain tidak berpengaruh terhadap pekerjaannya).

2.3.3.3 Teori Perbandingan Sosial Festinger

Masing-masing orang memiliki konsep diri yang berbeda-beda sehingga menyebakan dirinya melakukan perbandingan diri dengan orang lain. Gejala ini disebut sebagai perbandingan sosial. Perbandingan sosial terjadi manakala orang merasa tidak pasti mengenai kemampuan pendapatnya maka meraka akan mengevaluasi diri mereka melalui perbandingan orang lain yang sama. Perbandingan sosial merupakan proses otomatis dan spontan terjadi. Umumnya motif yang dilakukan manusia dalam melakukan perbandingan sosial adalah untuk mengevaluasi diri sendiri, memperbaiki diri sendiri dan meningkatkan diri sendiri.

Manusia dalam melakukan perbandingan sosial berlaku dalil umum sebagai berikut :
Persamaan (similarity hypothesis) : artinya manusia melakukan perbandingan dengan orang-orang yang sama dengan dirinya (laterla comparison) atau yang sedikit lebih baik dan umumnya manusia tersebut berjuang untuk menjadi lebih baik.
Dikaitkan dengam atribut (related atribut hypothesis) : artinya manusia melakukan perbandingan dengan melihat usia, etnis dan jenis kelamin yang sama
Downward comparison : manusia kadang membandingkan dirinya dengan orang yang lebih buruk dari dirinya. Umumnya ini dilakukan untuk mencari perasaan yang lebih baik atau mengabsahkan diri sendiri (self validating). Disini muncul dalil bahwa manusia kadang tidak objektif dalam melakukan perbandingan sosial
Teori Sosial Comparison (Dorian & Garfinkel, 2002) menyatakan bahwa setiap orang akan melakukan perbandingan antara keadaan dirinya sendiri dengan keadaan orang-orang lain yang mereka anggap sebagai pembanding yang realistis. Perbandingan sosial semacam ini terlibat dalam proses evaluasi diri seseorang, dan dalam melakukannya seseorang akan lebih mengandalkan penilaian subyektifnya dibandingkan penilaian obyektif.
Bila masyarakat terlanjur membentuk pandangan bahwa penampilan fisik yang ideal itu adalah seperti yang dimiliki para model yang ditampilkan dalam media massa, maka akan ada kecenderungan bahwa individu akan membandingkan dirinya berdasarkan standar yang tidak realistis.
Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa orang-orang yang sebenarnya memiliki proporsi tinggi badan serta berat badan yang normal mungkin saja memiliki penilaian yang negatif mengenai tubuhnya karena menggunakan tubuh model-model yang dilihatnya di media masa sebagai pembanding (Vilegas & Tinsley, 2003). Sampai batas tertentu, proses berpikir kritis terhadap diri sendiri memang akan membantu seseorang untuk menilai dirinya sendiri secara sehat dan untuk beradaptasi dengan lingkungannya.
Festinger (Sarwono, 2004) menyebutkan bahwa teori perbandingan sosial adalah proses saling mempengaruhi dan perilaku saling bersaing dalam interakso sosial ditimbulkan oleh adanya kebutuhan untuk menilai diri sendiri (self-evaluation) dan kebutuhan ini dapat dipenuhi dengan membandingkan diri dengan orang lain.
Ada dua hal yang diperbandingkan dalam hubungan ini, yaitu:
a. Pendapat (opinion)
b. Kemampuan (ability)
Perubahan pendapat relatif lebih mudah terjadi daripada perubahan kemampuan.
Dorongan untuk menilai pendapat dan kemampuan
Festinger mempunyai hipotesis bahwa setiap orang mempunyai dorongan (drive) untuk menilai pendapat dan kemampuannya sendiri dengan cara membandingkannya dengan pendapat dan kemampuan orang lain. Dengan cara itulah orang bisa mengetahui bahwa pendapatnya benar atau tidak dan seberapa jauh kemampuan yang dimilikinya (Sarwono, 2004).
Festinger juga memperingatkan bahwa dalam menilai kemampuan, ada dua macam situasi, yaitu: Pertama, kemampuan orang dinilai berdasarkan ukuran yang obyektif, misalnya kemampuan mengangkat barbel. Kedua, kemampuan dinilai berdasarkan pendapat. Misalnya, untuk menilai kemampuan pelukis berdasarkan pendapat orang lain.
Sumber-sumber penilaian
Orang akan mengagungkan ukuran-ukuran yang obyektif sebagai dasar penilaian selama ada kemungkinan melakukan itu. Namun, jika tidak, maka orang akan menggunakan pendapat atau kemampuan orang lain sebagai ukuran.
Memilih orang untuk membandingkan
Dalam membuat perbandingan dengan orang lain, setiap orang mempunyai banyak pilihan. Namun, setiap orang cenderung memilih orang sebaya atau rekan sendiri untuk dijadikan perbandingan.
Festinger mempunyai hipotesis mengenai hal ini yaitu: kecenderungan untuk membandingkan diri dengan orang lain menurun jika perbedaan pendapat atau kemampuan dengan orang lain itu meningkat. Dari hipotesisnya itu, terdapat dua hipotesis ikutan (corollary), yaitu:
Kalau ia boleh memilih, seseorang akan memilih orang yang pendapat atau kemampuannya mendekati pendapat atau kemampuannya sendiri untuk dijadikan pembanding.
Jika tidak ada kemungkinan lain kecuali membandingkan diri dengan pendapat atau kemampuan orang lain yang jauh berbeda, maka seseorang tidak akan mampu membuat penilaian yang tepat tentang pendapat atau kemampuannya sendiri.
Dengan menggunakan beberapa hipotesisnya selanjutnya Festinger menarik beberapa kesimpulan (derivasi) untuk tujuan peramalan tingkah laku:
Derivasi A: penilaian orang terhadap dirinya akan mantap (stabil) jika ada orang lain yang pendapat atau kemampuannya mirip dengan dirinya untuk dijadikan pembanding.
Derivasi B: penilaian cenderung akan berubah jika kelompok pembanding yang ada mempunyai pendapat atau kemampuan yang jauh berbeda daripada pendapat atau kemampuan sendiri.
Derivasi C: orang akan kurang tertarik pada situasi-situasi di mana orang lain mempunyai pendapat atau kemampuan yang berbeda dari dirinya sendiri dan akan lebih tertarik pada situasi di mana orang lain mempunyai pendapat atau kemampuan yang hampir sama dengan dirinya sendiri. Dengan perkataan lain, orang akan lebih tertarik pada kelompok yang memberi peluang lebih banyak untuk melakukan perbandingan.
Derivasi D: perbedaan besar dalam suatu kelompok dalam hal pendapat atau kemampuan akan menimbulkan tindakan untuk mengurangi perbedaan itu.
Faktor-faktor yang memengaruhi perubahan
Seperti yang telah dikatakan di atas, terdapat perbedaan antara kemampuan dan pendapat, pada kemampuan ada desakan untuk berubah ke satu arah, yaitu ke arah kemampuan yang lebih tinggi atau baik sedangkan dalam hal pendapat terdapat keleluasaan untuk terjadinya perubahan ke segala arah.
Atas dasar itu, Festinger mengajukan hipotesis berikutnya, yaitu dalam hal kemampuan terdapat desakan untuk berubah searah yaitu berubah ke atas yang tidak terdapat dalam hal perbedaan pendapat. Hipotesis ini menurut Festinger setidaknya berlaku untuk masyarakat seperti di Amerika Serikat, di mana prestasi yang tinggi sangat dihargai. Dengan kata lain, di lingkungan masyarakat lain di mana prestasi yang tinggi tidak mendapat penghargaan yang tinggi, hipotesis ini belum tentu berlaku.
Hipotesis berikutnya yang dikemukakan Festinger didasarkan pada perbedaan antara kemampuan dan pendapat tersebut adalah: ada faktor-faktor nonsosial ang menyulitkan atau tidak memungkinkan perubahan kemampuan pada seseorang, yang hampir-hampir tidak ada pada perubahan pendapat. Misalnya orang badannya lemah bisa saja berpendapat bahwa ia bisa mengangkat barbel seberat 100 kg. Tetapi kenyataanya ia tetap saja tidak dapat mengangkat barbel tersebut. Lain halnya jika seseorang merasa pendapatnya salah, maka dengan mudah ia mengubah pendapatnya tersebut.
Berhentinya perbandingan
Jika kita melihat Derivasi D di atas, yaitu perbedaan besar dalam suatu kelompok dalam hal pendapat atau kemampuan akan menimbulkan tindakan untuk mengurangi perbedaan itu. Maka akan muncul beberapa kesimpulan lagi, salah satunya adalah jika perbedaan pendapat atau kemampuan dengan orang lain dalam kelompok terlalu besar, maka akan terdapat kecenderungan untuk menghentikan perbandingan-perbandingan.
Konsekuensi pengehentian perbandingan ini berbeda antara pendapat dan kemampuan, karena perbedaan pendapat seseorang dari kelompok berarti pendapat orang itu tidak benar, sedangkan konotasi negatif seperti itu tidak selalu terdapat pada perbedaan kemampuan.
Mengenai hal ini, Festinger mengemukakan hipotesis bahwa sejauh perbandingan yang berkepanjangan dengan orang lain menimbulkan konsekuensi yang tidak menyenangkan, penghentian perbandingan akan diikuti oleh perasaan bermusuhan dan kebencian. Hipotesis ini pun memiliki hipotesis ikutan yang menyatakan bahwa penghentian perbandingan akan diikuti oleh perasaan bermusuhan atau kebencian hanya dalam hal perbedaan pendapat, tidak dalam hal perbedaan kemampuan.
Desakan ke arah keseragaman
Setiap faktor yang meningkatkan dorongan untuk membandingkan pendapat atau kemampuan dengan sendirinya juga akan merupakan faktor yang mendesak ke arah tercapainya keseragaman pendapat atau kemampuan yang bersangkutan. Atau dengan kata lain bahwa setiap faktor yang meningkatkan pentingnya suatu kelompok sebagai kelompok pembanding untuk suatu pendapat atau kemampuan akan merupakan faktor yang meningkatkan desakan ke arah keseragaman dalam hal pendapat atau kemampuan tersebut.
Desakan ke arah keseragaman pendapat atau kemampuan tergantung dari daya tarik kelompok itu. Semakin menarik kelompok itu bagi seseorang, semakin penting arti kelompok itu sebagai pembanding dan semakin kuat pula desakan pada orang itu untuk mengurangi perbedaan antara dirinya sendiri dengan kelompok. Hal tersebut terlihat dalam perilaku-perilaku sebagai berikut:
a. kecenderungan untuk mengubah pendapat sendiri
b. usaha yang semakin meningkat untuk mengubah pendapat orang lain
c. kecenderungan yang meningkat untuk membuat orang lain kurang senang
Jika ada berbagai pendapat atau kemampuan dalam kelompok, manifestasi dari kekuatan desakan ke arah keseragaman berbeda-beda antara orang yang ada di dekat pendapat umum kelompok (modus pendapat kelompok) dengan orang yang jauh dari modus pendapat. Khususnya orang yang dekat dengan modus pendapat kelompok, mempunyai kekuatan yang lebih besar untuk mengubah posisi pendapat atau kemampuan orang lain, relatif lebih lemah kecenderungannya untuk memperkecil kemungkinan perbandingan dan sangat lemah kecenderungannya untuk mengubah posisinya sendiri jika dibandingkan dengan orang yang jauh dari modus pendapat kelompok.
Pengaruhnya terhadap pembentukan kelompok
Dorongan untuk menilai diri sendiri mempunyai pengaruh yang penting terhadap pembentukan kelompok dan perubahan keanggotaan kelompok:
Karena perbandingan hanya bisa terjadi dalam kelompok, maka untuk menilai diri sendiri orang terdorong untuk berkelompok dan menghubungkan dirinya sendiri dengan orang lain.
Kalompok yang paling memuaskan adalah yang pendapatnya paling dekat dengan pendapat sendiri. Oleh karena itu, orang lebih tertarik pada kelmpok yang pendapatnya sama dengan pendapat sendiri dan cenderung menjauhi kelompok-kelompok yang pendapatnya berbeda dari pendapat sendiri.
Konsekuensi-konsekuensi dari perbandingan yang dipaksakan
Jika perbedaan-perbedaan pendapat atau kemampuan dalam kelompok terlalu besar, maka kelompok akan mengatur dirinya sedemikian rupa sehingga perbedaan itu dapat didekatkan dan perbandingan dapat dilakukan.
Akan tetapi, Festinger mengatakan bahwa ada dua situasi di mana hal tersebut tidak terjadi, yaitu di mana perbedaan tetap besar, tetapi perbandingan tetap harus dilakukan. Kedua situasi tersebut adalah:
Situasi di mana kelompok itu sangat menarik bagi seseorang sehingga orang itu tetap saja ikut dalam kelompok walaupun pendapat atau kemampuannya cukup jauh berbeda dari pendapat atau kemampuan kelompok.
Situasi di mana individu terpaksa harus ikut terus dengan kelompok karena tidak ada kemungkinan lain, misalnya orang yang dipenjara, atau harus tetap bekerja walaupun tidak suka pada perusahaan tempatnya bekerja. Dalam hal ini pengaruh kelompok terhadap individu lemah dan keseragaman pendapat hanya dapat dicapai melalui paksaan atau kekerasan.

Pengertian Teori Komunikasi Antarpersonal, Latar Belakang Teori Antarpersonal, Pencetus Teori Antarpersonal, Asumsi Teori Antarpersonal, Cabang Teori Komunikasi Antarpersonal

2.2 Teori Komunikasi Antarpersonal

2.2.1 Definisi Teori Komunikasi Antarpersonal

Komunikasi antarpribadi yang dimaksud disini ialah proses komunikasi yang berlangsung antara dua orang atau lebih secara tatap muka, seperti yang dinyatakan R. Wayne Pace (1979). Menurut sifatnya komunikasi antarpribadi dapat dibedakan dua macam, yakni Komunikasi Diadik (Dyadic Communication) dan Komunikasi Kelompok Kecil (Small Group Communication).
Komunikasi Diadik ialah proses komunikasi yang berlangsung antara dua orang dalam situasi tatap muka. Komunikasi Diadik menurut Pace dapat dilakukan dalam tiga bentuk, yakni percakapan, dialog, dan wawancara. Percakapan berlangsung dalam suasana yang bersahabat dan informal. dialog berlangsung dalam situasi yang lebih intim, lebih dalam, dan lebih personal, sedangkan wawancara sifatnya lebih serius, yakni adanya pihak yang dominan pada posisi bertanya dan yang lainnya pada posisi menjawab.
Komunikasi kelompok kecil ialah proses komunikasi yang berlangsung antara tiga orang atau lebih secara tatap muka, dimana antara anggota-anggotanya saling berinteraksi satu sama lain. Komunikasi kelompok kecil oleh banyak kalangan dinilai sebagai tipe komunikasi antarpribadi karena; Pertama, anggota-anggotanya terlibat dalam suatu proses komunikasi yang berlangsung secara tatap muka. Kedua, pembicaraan berlangsung secara terpotong-potong dimana semua pesan bisa berbicara dalam kedudukan yang sama, dengan kata lain tidak ada pembicara tunggal yang mendominasi situasi. Ketiga, sumber dan penerima sulit didefinisikan. Dalam situasi seperti ini, semua anggota bisa berperan sebagai sumber dan juga sebagai penerima. Oleh karena itu pengaruhnya bisa bermacam-macam, misalnya si A bisa terpengaruh dari si B, dan si C bisa mempengaruhi si B. Proses komunikasi seperti ini biasanya banyak ditemukan dalam kelompok studi dan kelompok diskusi.
Tidak ada batas yang menentukan secara tegas berapa besar jumlah suatu anggota kelompok kecil. Biasanya antara 2-3 orang, bahkan ada yang mengembangkan sampai 20-30 orang, tetapi tidak lebih dari 50 orang.
Komunikasi antarpersonal adalah suatu proses pertukaran makna antara orang-orang yang saling berkomunikasi. Maksud dari Proses ini, yaitu mengacu pada perubahan dan tindakan (action) yang berlangsung terus-menerus
Menurut Joseph A. Devito, komunikasi antarpribadi adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau diantara sekelompok kecil orang-orang, dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik seketika. Komunikasi antarpersonal dinilai paling baik dalam kegiatan mengubah sikap, kepercayaan, opini, dan perilaku komunikan. Alasannya adalah karena komunikasi antarpersonal dilakukan secara tatap muka dimana antara komunikator dan komunikan saling terjadi kontak pribadi; pribadi komunikator menyentuh pribadi komunikan, sehingga aka nada umpan balik yang seketika (perkataan, ekspresi wajah, ataupun gesture). Komunikasi inilah yang dianggap sebagai suatu teknik psikologis manusiawi.

2.2.2 Asumsi Teori Komunikasi Antarpersonal

Asumsi dasar komunikasi antarpribadi adalah bahwa setiap orang yang berkomunikasi akan membuat prediksi pada data psikologis tentang efek atau perilaku komunikasinya, yaitu bagaimana pihak yang menerima pesan memberikan reaksinya. Jika menurut persepsi komunikator reaksi komunikan menyenangkan maka ia akan merasa bahwa komunikasinya telah berhasil.
Setiap berkomunikasi dengan orang lain kita secara tidak langsung membuat prediksi tentang efek dan prilaku komunikasinya. Menurut Miller ada tiga tingkatan analisis yang digunakan dalam melakukan prediksi, yaitu: tingkat kultural, tingkat sosiologis, dan tingkat psikologis.
Berbicara mengenai efektivitas komunikasi antarpersonal, Mc. Crosky, Larson dan Knapp menyatakan bahwa komunikasi yang efektif dapat dicapai dengan mengusahakan accuracy yang paling tinggi derajatnya dalam setiap situasi.
Untuk kesamaan dan ketidak samaan dalam derajat pasangan komunikator dan komunikan dalam proses komunikasi, Everett M. Rogers mengetengahkan istilah homophily dan heterophily yang dapat menjelaskan hubungan komunikator dan komunikan dalam proses komunikasi antar personal. Homophily adalah istilah yang menggambarkan derajat pasangan perorangan yang berinteraksi yang memiliki kesamaan dalam sifatnya (attribute). Heterophily adalahh derajat pasangan orang-orang yang berinteraksi yang berada dalam sifat-sifat tertentu. Dalam situasi bebas memilih, dimana komunikator dapat berinteraksi dengan salah seorang dari sejumlah komunikan.
Menurut para psikolog seperti Fordon W. Allport, Erich Fromm, Martin Buber, Carl Rogers dan Arnold P. Goldstein, menyatakan bahwa hubungan antar personal yang baik akan membuat, antara lain :
Makin terbukanya seorang pasien mengungkapkan perasaannya,
Makin cenderung ia meneliti perasaanya secara mendalam beserta penolongnya,
Makin cendereng ia mendengar denagn penuh perhatian dan bertindak atas nasihat yang diberikan penolongnya.
Menurut Litteljohn (1999) menyatakan komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang dilakukan antar individu.
Menurut Agus M. Hardjana (2003:85) komunikasi interpersonal adalah sebuah interaksi tatap muka anatar dua orang atau beberapa orang, dimana pengirim dapat menyampaikan pesan secara langsung dan penerima pesan dapat menerima dan menanggapi pesan secara langsung pula. Pendapat senada juga dikemukakan oleh : Deddy Mulyana (2008:81) menyatakan bahwa komunikasi interpersonal adalah komunikasi antar dua orang secara tatap muka yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal ataupun non verbal.
Menurut Trenholm dan jensen (1995:26) menyatakan bahwa komunikasi interpersonal sebagai komunikasi antar dua orang secara langsung secara tatap muka (komunikasi diadik).
Dalam komunikasi antarpersonal kita mencoba untuk menginterpretasikan makna yang menyangkut diri kita sendiri, diri orang lain, dan hubungan yang terjadi. Kesemuanya terjadi melalui suatu proses piker yang melibatkan penarikan kesimpulan. Masing-masing individu secara simultan akan menggunakan tiga tataran yang berbeda, yaitu persepsi, metapersepsi dan metametapersepsi. Ketiganya akan saling mempengaruhi sepanjang proses komunikasi.
Menurut Judy C. Pearson, menyebutkan ada enam karakteristik komunikasi antarpersonal, antaralain:
Komunikasi antarpersonal dimulai dengan diri pribadi (self)
Komunikasi antarpersonal bersifat transaksional
Komunikasi antarpersonal mencakup aspek-aspek isi pesan dan hubungan antarpribadi.
Komunikasi antarpersonal mensyaratkan adanya kedekatan fisik antara pihak-pihak yang berkomunikasi
Komunikasi antarpersonal melibatkan pihak-pihak yang saling tergantung satu dengan lainnya (interdependen) dalam proses komunikasi
Komunikasi antarpersonal tidak dapat diubah maupun diulang
Teori-teori antarpersonal menjelaskan prosesinteraksi antara dua orang (dyad) yang dilakukan tatap muka atau melalui media. Unit analisi dari komunikasi antarpersonal adalah dyad dan relasi itu sendiri. Ada empat perspektif khusu dari studi komunikasi antarpersonal, yaitu:
Perspektif relasional (kualitatif) yang menguraikan komunikasi melalui peranan pengirim dan penerima yang berbagi dan menciptakan makna pesan secara simultan.
Perspektif situasional (kontekstual), yang menguraikan komunikasi yang terjadi antara dua orang dalam konteks tertentu.
Perspektif kuantitatif, yang menguraikan komunikasi sebagai interaksi dyadic, termasuk komunikasi impersonal.
Pespektif strategis, yang menguraikan komunikasi untuk mencapai tujuan antarpersonal tertentu.
Ada beberapa sifat komunikasi interpersonal, diantaranya adalah :
Komunikasi itu bersifat spontan dan informal
Saling menerima umpan balik (feedback) secara maksimal
Partisipan berperan fleksibel

2.2.3 Teori-teori Komunikasi Antarpersonal; Pencetus Teori dan Latar
   Belakang Teori.

2.2.3.1 Teori Kebutuhan Hubungan Interpersonal

Gregory Bateson adalah seorang Antropolog, dia pendiri garis teori ini yang selanjutnya dikenal dengan komunikasi relasional. Kerjanya mengarah pada pengembangan dua proposisi mendasar pada mana kebanyakan teori relasional masih bersandar. Pertama yaitu sifat mendua dari pesan: setiap pertukaran interpersonal membawa dua pesan, pesan “report” dan pesan “command”. Report message mengandung substansi atau isi komunikasi, sedangkan command message membuat pernyataan mengenai hubungan. Dua elemen ini selanjutnya dikenal sebagai “isi pesan” dan “pesan hubungan”, atau “komunikasi” dan “metakomunikasi”.
Pesan report menetapkan mengenai apa yang dikatakan, dan pesan command menunjukkan hubungan diantara komunikator. Isi pesan sederhana seperti “I love you” dapat dibawakan dalam berbagai cara, dimana masing-masing mengatakan sesuatu secara berbeda mengenai hubungan. Frasa ini dapat dikatakan dalam cara yang bersifat dominasi, submissive, pleading (memohon), meragukan, atau mempercayakan. Isi pesannya sama, tetapi pesan hubungan dapat berbeda pada tiap kasus.
Proposisi kedua Bateson yaitu bahwa hubungan dapat dikarakterisasi dengan komplementer atau simetris. Dalam hubungan yang komplementer, sebuah bentuk perilaku diikuti oleh lawannya. Contoh, perilaku dominan seorang partisipan memperoleh perilaku submissive dari partisipan lain. Dalam symmetry, tindakan seseorang diikuti oleh jenis yang sama. Dominasi ketemu dengan sifat dominan, atau submissif ketemu dengan submissif.
Disini kita mulai melihat bagaimana proses interaksi menciptakan struktur dalam sistem. Bagaimana orang merespon satu sama lain menentukan jenis hubungan yang mereka miliki. Sistem yang mengandung serangkaian pesan submissif akan sangat berbeda dengan yang mengandung rangkaian pesan yang besifat dominasi. Dan struktur pesan yang mencampur keduanya adalah berbeda pula.
Meski Bateson seorang pakar antropologi, gagasannya dengan cepat dibawa kedalam psikiatri dan diterapkan pada hubungan patologis. Beberapa peneliti komunikasi memanfaatkan kerja Bateson dan kelompoknya. Aubrey Fisher, salah satu yang dikenal baik dari kelompok ini, sebagai pemimpin teoritisi sistem. Dalam buku Perspectives on Human Communication dia menerapkan konsep sistem kedalam komunikasi.
Analisa Fisher dimulai dengan perilaku seperti komentar verbal dan tindakan nonverbal sebagai unit terkecil analisa dalam sistem komunikasi. Perilaku yang dapat diamati ini dapat dilihat atau didengar dan merupakan satu-satunya ekspresi pemikiran bagi keterhubungan individu dalam sistem komunikasi. Dari sudut pandang sistem, perilaku itu sendiri adalah apa yang dihitung, dan struktur hubungan terdiri atas pola perilaku yang tersusun ini. Dengan kata lain, hubungan kita dengan orang lain ditentukan oleh bagaimana kedua kita bertindak dan apa yang kita katakan.
Pola komunikasi dibentuk oleh sekuen tindakan. Ketika kita berkomunikasi kita bertindak dan bereaksi dalam sekuen, jadi interaksi adalah arus pesan. Fisher percaya bahwa arus bicara dengan dirinya sendiri mengatakan sedikit mengenai komunikasi, sehingga harus dipecah kedalam unit-unit yang mengandung tindakan dan respon. Fisher mengembangkan metode untuk mengetahui semua pola percakapan, yang terdiri atas pesan-pesan penyandian, sehingga pola respon dapat ditetapkan.
Unit yang paling dasar dari komunikasi dipakai Fisher adalah interact, atau rangkaian dua pesan yang bersambungan diantara dua orang.
Contohnya yaitu pertanyaan dari orang pertama diikuti oleh jawaban dari orang kedua. Pertanyaan yang diikuti oleh jawaban akan berbeda dari permintaan yang diikuti persetujuan. Permintan yang diikuti oleh penawaran adalah berbeda dari suggestion atau saran yang diikuti oleh keberatan. Interaksi dikombinasikan kedalam unit yang lebih besar disebut double interact (tiga tindakan), dan selanjutnya dikombinasi lagi kedalam triple interact (empat tindakan).
Struktur dari keseluruhan interaksi merupakan rangkaian interaksi yang makin lama makin membesar. Kebanyakan kerja Fisher melibatkan pembuatan keputusan dalam kelompok kecil. Dalam risetnya dia menyandi apa yang orang katakan dalam diskusi kelompok dan menganalisa interaksi ini dalam cara yang seluruh pola, atau struktur dari diskusi dapat digambarkan. Fisher menunjukkan bagaimana interaksi berkombinasi dengan bentuk fase pemuatan keputusan kelompok.
Diantara periset yang terkenal dalam komunikasi relasional adalah Edna Rogers dan Frank Millar. Kerja Millar dan Rogers merupakan aplikasi langsung dari gagasa Bateson dan konsisten dengan teori Fisher. Secara khusus, mereka bertanggung jawab bagi pengembangan metode riset mengenai pengkode-an dan pengelompokan pola relasional. Seperti Fisher, Millar dan Rogers mengamati percakapan dan kode tindakan komunikasi dalam suatu cara yang membiarkan mereka menemukan pola yang diciptakan melalui interaksi. Dari risetnya mereka mengembangkan teori yang menunjukkan bagaimana hubungan mengandung struktur kontrol, kepercayaan, dan keakraban.
Asumsi Dasar dan Uraian Teori adalah satu bagian dalam lapangan komunikasi yang dikenal sebagai relational communication sangat dipengaruhi oleh teori sistem. Inti dari kerja ini adalah asumsi bahwa fungsi komunikasi interpersonal untuk membuat, membina, dan mengubah hubungan dan bahwa hubungan pada gilirannya akan mempengaruhi sifat komunikasi interpersonal.
Poin ini berdasar pada gagasan bahwa komunikasi sebagai interaksi yang menciptakan struktur hubungan. Dlaam keluarga misalnya, anggota individu secara sendirian tidak membentuk sebuah sistem, tetapi ketika berinteraksi antara satu dengan anggota lainnya, pola yang dihasilkan memberi bentuk pada keluarga. Gagasan sistem yang penting ini secara luas diadopsi dalam lapangan komunikasi. Proses dan bentuk merupakan dua sisi mata uang; saling menentukan satu sama lain.

2.2.3.2 Teori Analisis Transaksional (Transactional Analysis Theory)

Menurut International Association Transaksional Analisis, Analisis Transaksional adalah teori kepribadian dan psikoterapi sistematis untuk pertumbuhan pribadi dan perubahan pribadi.
Sebagai teori kepribadian, TA menggambarkan bagaimana orang-orang yang terstruktur psikologis. Ia menggunakan apa yang mungkin modelnya yang paling terkenal, ego-negara (Parent-Adult-Anak) model untuk melakukan hal ini (kita akan membahas tiga negara ego kemudian dalam makalah ini). Model yang sama membantu menjelaskan bagaimana orang fungsi dan mengekspresikan kepribadian mereka dalam perilaku mereka.
Ini adalah teori komunikasi yang dapat diperluas untuk analisis sistem dan organisasi.
Ia menawarkan teori untuk perkembangan anak, dengan menjelaskan bagaimana kita dewasa pola hidup berasal dari masa kanak-kanak. Penjelasan ini didasarkan pada gagasan tentang “Hidup Script”: asumsi bahwa kami terus strategi masa kanak-kanak kembali bermain, bahkan ketika hasil ini dalam sakit atau kekalahan.
Dalam aplikasi praktis, dapat digunakan dalam diagnosis dan perawatan berbagai jenis gangguan psikologis, dan menyediakan sebuah metode terapi untuk perorangan, pasangan, keluarga dan kelompok.
Luar bidang terapi, telah digunakan dalam pendidikan, untuk membantu guru tetap komunikasi yang jelas pada tingkat yang tepat, dalam konseling dan konsultasi, dalam pelatihan manajemen dan komunikasi, dan oleh badan-badan lain.
Teori analisis transaksional memandang hubungan sebagai sebuah system. Setiap system memiliki sifat-sifat structural, integrative, dan medan. Semua system terdiri dari subsistem-subsistem yang saling tergantung dan bertindak bersama sebagai satu kesatuan.
Teori ini dikemukakan oleh seorang psikiater jenius Amerika bernama Eric Berne yang lahir di Montreal Kanada 10 Mei 1910. Kemunculan teori ini tidak dapat dilepaskan dari perasaan dari perasaan kecewa Berne terhadap praktek psikiatri yang menurutnya menuntut biaya terlalu mahal tetapi hasil yang dapat diperdebatkan serta sukar dimengerti. Atas dasar inilah, Berne terdorong untuk mengahsilkan teori dan metode psikiatri yang betul-betul dapat mengak misteri dibalik perilaku manusia yaitu pada otak yang merupakan suatu system.
Haree dan Lamb (1996) mendefinisikan teori analisis transaksional sebagai sesuatu teori kepribadian dan tingkah laku social yang dipakai sebagai wahana untuk psikioterapi dan perubahan social yang lebih umum. Konsep kepribadian dan prilaku social dalam teori ini dipandang sebagai satu kesatuan dimana struktur kepribadian seseorang diyakini akan mempengaruhi cara yang bersangkutan berinteraksi secara social. Komunikasi atau tindakan membina hubungan dengan orang lain merupakan wujud interaksi social. Karena alasan ini kemudian analisis transaksional menempatkan tindakan komunikasi antar manusia sebagai bagian yang tak terlepaskan.
Menurut Teori Analisis transaksional, ketika dua lebih orang bertemu, cepat atau lambat; salah satu dari mereka akan menyapa atau memberikan indikasi lainnya atas kehadiran orang lain. Hal ini disebut “ Stimulus Transaksional”. Orang lain tersebut kemudian akan mengatakan atau melakukan sesuatu yang berkaitan dengan stimulus yang diterima. Respon yang diberikan orang lain tersebut dinamai “Tanggapan Transaksional”. Orang yang menyampaikan stimulus disebut “agen” dan orang yang merespon disebut “Responden”.
Asumsi Dasar dan Uraian Teori
Berne mengajukan beberapa asumsi dasar yang melandasi teorinya, yaitu:
Manusia pada dasarnya dalam keadaan “oke”. Ini lebih merupakan pernyataan kualitas atau potensial ketimbang keadaan actual. Masing-masing manusia selalu berniali, berguna dan memiliki kemampuan-kemampuan tertentu sehingga layak diperlakukan secara patut.
Semua orang memiliki kapasitas untuk berfikir
Manusia memutuskan sendiri jalan hidup mereka sendiri dengan membuat keputusan pada naskah awal kehidupan mereka, dan keputusan itu dapat diubah.
Tujuan teori analisis transaksional adalah menghasilkan hubungan atau komunikasi yang efektif dan memuaskan kedua belah pihak. Menurut teori ini titik tolak untuk memahami perilaku komunikasi manusia adalah dengan memahami sumber yang mendorong perilaku tersebut yakni Egostate.

2.2.3.3 Uncertainty Reduction Theory (Teori Pengurangan Ketidakpastian)

Tujuan penyusunan teori pengurangan ketidakpastian  ini adalah untuk menjelaskan bagaimana komunikasi digunakan untuk mengurangi ketidakpastian di antara orang asing yang terlibat dalam pembicaraan satu sama lain untuk pertama kali. Saat pertama kali bertemu, orang bertindak sebagai peneliti yang naïf, yang termotivasi untuk memprediksi maupun untuk menjelaskan apa yang terjadi dalam perjumpaan – perjumpaan awal.
Teori ini menyebutkan bahwa ada dua tipe ketidakpastian dari perjumpaan awal, yaitu :
Ketidakpastian Kognitif (Cognitive uncertainty) merupakan tingkatan ketidakpastian yang diasosiasikan dengan keyakinan dan sikap.
Ketidakpastian Perilaku (Behavioral uncertainty), dilain pihak berkenaan dengan luasnya perilaku yang dapat diprediksikan dalam situasi yang diberikan.
Asumsi Teori Pengurangan Ketidakpastian
Teori ini meliputi tujuh (7) asumsi :
Orang mengalami ketidakpastian dalam latar interpersonal. Karena terdapat harapan yang berbeda – beda mengenai kejadian interpersonal , maka orang akan merasa tidak pasti atau bahkan cemas untuk bertemu dengan orang lain.
Ketidakpastian adalah keadaan yang tidak mengenakkan, menimbulkan stress secara kognitif. Berada dalam ketidakpastian membutuhkan energy emosional dan psikologis yang banyak. Orang-orang yang dalam kerja barunya mengalami stress dengan sekitarnya.
Ketika orang asing bertemu, perhatian utama mereka adalah untuk mengurangi ketidakpastian mereka atau meningkatkan prediktabilitas.Meningkatkan prediktabilitas dengan mencari informasi yang dilakukan dengan mengajukan pertanyaan – pertanyaan.
Komunikasi interpersonal adalah sebuah proses perkembangan yang terjadi melalui tahapan – tahapan. Fase awal (awal interaksi di anntara orang asing) Fase personal (tahapan ketika orng mulai berkomunikasi dengan lebih spontan dan membuka banyak informasi personal) Fase Akhir (memutuskan apakah hubungan tersebut akan diteruskan atau dihentikan).
Komunikasi interpersonal adalah alat yang utama untuk mengurangi ketidakpastian. Komunikasi interpesornal mensyartakan beberapa kondisi, yaitu kemampuan untuk mendengar, tanda respon non-verbal, dan bahasa yang sama. Tantangan seperti ini mempengaruhi proses pengurangan ketidakpastian dan pengembangan hubungan.
Kuantitas dan sifat informasi yang dibagi oleh orang berubah seiring berjalannya waktu. Komunikasi interpersonal adalah perkembangan, yang diawali oleh interaksi awal sebagai elemen kunci keberhasilannya.
Sangat mungkin menduga perilaku orang dengan menggunakan cara seperti hukum. Perilaku manusia diatur oleh prinsip – prinsip umum yang berfungsi dengan cara seperti hukum.
Aksioma Uncertainty Reduction Theory (Teori Pengurangan Ketidakpastian)
Uncertanty Reduction Theory mengemukakan adanya tujuh aksioma (kebenaran yang ditarik dari penelitian sebelumnya dan akal sehat) :
Dengan adanya tingkat ketidakpastian yang tinggi pada permulaan fase awal, ketika jumlah komunikasi verbal antara dua orang asing meningkat, tingkat ketidakpastian untuk tiap partisipan dalam suatu hubungan akan menurun. Jika ketidakpastian menurun, jumlah komunikasi verbal akan meningkat. Hal ini menyatakan adanya kebalikan atau hubungan negative antara ketidakpastian dan komunikasi verbal.
Ketika ekspresi afiliatif nonverbal meningkat, tingkat ketidakpastian menurun dalam situasi interaksi awal. Selain itu, penurunan tingkat ketidakpastian akan menyebabkan peningkatan keekspresifan afiliatif nonverbal. Hal ini merupakan salah satu hubungan yang bersifat negative.
Tingkat ketidakpastian yang tinggi menyebabkan menungkatnya perilaku pencarian infromasi. Ketika tingkat ketidakpastian menurun, perilaku pencarian informasi juga menurun. Aksioma ini menunjukan hubungan yang positif antara dua konsep tersebut.
Tingkat ketidakpastian yang tinggi dalam sebuah hubungan menyebabkan penurunan tingkat keintiman dari isi komunikasi. Tingkat ketidakpastian yang rendah menghasilkan tingkat keintiman yang tinggi. Aksioma ni memeprlihatkan hubungan yang negative antara ketidakpastian dan tingkat keintiman.
Ketidkapastian yang tingkat tinggi menghasilkan tingkat resiprositas yang tinggi. Tingkat ketidakpastian yang rendah menghasilkan tingkay resiprositas yang rendah pula. Hubungan yang positif terjadi disini.
Kemiripan di antara orang akan mengurangi ketidakpastian, sementara ketidakmiripan akan meningkatkan ketidakpastian. Aksioma ini menyakan sebuah hubungan yang negative.
Peningkatan ketidakpastian akan menghasilkan penurunan dalam kesukaan; penurunan dalam ketidakpastian menghasilkan peningkatan dalam kesukaan. Ini merupakan hubungan negatif.

Teori Komunikasi Intrapersonal, Pencetus Teori, Latar belakang Teori, Asumsi Teori Komunikasi Intrapersonal, Cabang Teori Komunikasi Intrapersonal

2.1 Teori Komunikasi Intrapersonal

2.1.1 Definisi Komunikasi Intrapersonal

Komunikasi dengan diri sendiri adalah proses komunikasi yang terjadi di dalam individu, atau dengan kata lain proses berkomunikasi dengan diri sendiri. Sepintas lalu, memang agak lucu kedengarannya, kalau ada orang yang berkomunikasi dengan dirinya sendiri.

Terjadi proses komunikasi disini karena adanya seseorang yang memberi arti terhadap sesuatu objek yang diamatinya atau terbetik dalam pikirannya. Objek dalam hal ini bisa saja dalam bentuk benda, kejadian alam, peristiwa, pengalaman, fakta yang mengandung arti bagi manusia, baik yang terjadi di luar maupun di dalam diri sesorang.

Objek yang diamati mengalami proses perkembangan dalam pikiran manusia setelah mendapat rangsangan dari pancaindra yang dimilikinya. Hasil kerja dari proses pikiran tadi setelah dievaluasi pada gilirannya akan memberikan pengaruh pada pengetahuan, sikap, dan perilaku seseorang.

Dalam proses pengambilan keputusan, sering kali seseorang dihadapkan pada pilihan Ya atau Tidak. Keadaan semacam ini membawa seseorang pada situasi berkomunikasi dengan diri sendiri, terutama dalam mempertimbangkan untung ruginya suatu keputusan yang akan diambil. Cara ini hanya bisa dilakukan dengan metode komunikasi intrapersonal atau komunikasi dengan dirinya sendiri.
Beberapa kalangan menilai bahwa proses pemberian arti terhadap sesuatu yang terjadi dalam diri individu, belum dapat dinilai sebagai proses komunikasi, melainkan suatu aktivitas internal monolog (Asante, 1979).

Studi tentang komunikasi dengan diri sendiri (Intrapersonal Communication) kurang begitu banyak mendapat perhatian terkecuali dari kalangan yang berminat dalam bidang psikologi behavioristik.

Menurut Lance Morrow dalam majalah Time (1998) mengatakan bahwa “berbicara dengan diri sendiri sering kali merupakan hal yang yang tidak bermartabat-pikiran jahat, pembenaran terhadap diri sendiri, serta maki-makian”. Sedangkan menurut Joan Aitken dan Leonard Shedletsky (1997) menyatakan bahwa komunikasi intrapersonal sebnarnya lebih dari itu. Komunikasi macam ini melibatkan banyak penilaian akan perilaku orang lain.

Aktivitas dari komunikasi intrapribadi yang kita lakukan sehari-hari dalam upaya memahami diri pribadi diantaranya adalah; berdo’a, bersyukur, instrospeksi diri dengan meninjau perbuatan kita dan reaksi hati nurani kita, mendayagunakan kehendak bebas, dan berimajinasi secara kreatif. Pemahaman diri pribadi ini berkembang sejalan dengan perubahan perubahan yang terjadi dalam hidup kita. Kita tidak terlahir dengan pemahaman akan siapa diri kita, tetapi prilaku kita selama ini memainkan peranan penting bagaimana kita membangun pemahaman diri pribadi ini.

Kesadaran pribadi (self awareness) memiliki beberapa elemen yang mengacu pada identitas spesifik dari individu (Fisher 1987:134). Elemen dari kesadaran diri adalah konsep diri, proses menghargai diri sendiri (self esteem), dan identitas diri kita yang berbeda beda (multiple selves).
Namun, pada tahun 1992, Pengertian tentang ‘communication intrapersonal’ itu sendiri adalah ambigu: banyak definisi tampak melingkar karena mereka meminjam, menerapkan dan dengan demikian mendistorsi fitur konseptual (misalnya, pengirim, penerima, pesan, dialog) ditarik dari komunikasi antar-orang normal, tidak diketahui entitas atau orang -bagian yang diduga melakukan ‘intrapersonal’ tukar, dalam banyak kasus, sebuah bahasa yang sangat pribadi yang mengemukakan, setelah analisis, ternyata benar-benar dapat diakses dan akhirnya tidak dapat dipertahankan. Secara umum, komunikasi intrapersonal tampaknya timbul dari kecenderungan untuk menafsirkan proses mental batin yang mendahului dan menyertai perilaku komunikatif kita seolah-olah mereka juga jenis lain proses komunikasi.
Komunikasi intrapersonal terjadi sebelum- pada saat- dan setelah terjadi komunikasi interpersonal. Dengan kata lain komunikasi intrapersonal mengiringi proses komunikasi interpersonal meski ia bisa berdiri sendiri. Komunikasi intrapersonal yang mengiri komunikasi interpersonal bertujuan untuk melakukan prediksi, evaluasi dan penguatan dalam kita berelasi sosial.
Pada Tahun 1990 terjadi sebuah kekacauan, Sebuah buku yang bertajuk Komunikasi YearBook mengeluarkan asumsi bahwa Komunikasi Intrapersonal adalah komunikasi yang memiliki konsef yang Cacat. Komunikasi intrapersonal, tampak, muncul dari serangkaian kejanggalan logis dan linguistik.
Pengertian tentang ‘communicaton intrapersonal’ itu sendiri adalah ambigu: banyak definisi tampak melingkar karena mereka meminjam, menerapkan dan dengan demikian mendistorsi fitur konseptual (misalnya, pengirim, penerima, pesan, dialog) ditarik dari komunikasi antar-orang normal, tidak diketahui entitas atau orang -bagian yang diduga melakukan ‘intrapersonal’ tukar, dalam banyak kasus, sebuah bahasa yang sangat pribadi yang mengemukakan, setelah analisis, ternyata benar-benar dapat diakses dan akhirnya tidak dapat dipertahankan.
Secara umum, komunikasi intrapersonal tampaknya timbul dari kecenderungan untuk menafsirkan proses mental batin yang mendahului dan menyertai perilaku komunikatif kita seolah-olah mereka juga jenis lain proses komunikasi. Titik keseluruhan adalah bahwa rekonstruksi proses mental batin kita dalam bahasa dan idiom percakapan sehari-hari masyarakat sangat dipertanyakan, lemah di terbaik.

Komunikasi  intrapersonal  meliputi  sensasi,  persepsi,  memori,  dan  berpikir.  Sensasi  adalah proses  menangkap  stimuli.  Persepsi  adalah  proses  memberi  makna  pada  sensasi  sehingga manusia  memperoleh  pengetahuan  baru.  Dengan  kata  lain,  persepsi  mengubah  sensasi menjadi informasi. Memori adalah proses menyimpan informasi dan memanggilnya kembali. Berfikir  adalah  mengolah  dan  memanipulasikan  informasi  untuk  memenuhi  kebutuhan  atau memberikan respons.

1.  Sensasi

Sensasi berasal dari kata “sense” artinya, alat pengindraan yang menghubungkan organisme dengan  lingkungannya.  Menurut  B.  Wolman,  sensasi  adalah  pengalaman  elementer  yang segera,  yang  tidak  memerlukan  penguraian  verbal,  simbolis,  atau  konseptual,  dan  terutama sekali berhubungan dengan kegiatan alat indera.  Psikologi  menyebutkan  sembilan  alat  indera  yang  digunakan  oleh  manusia:  penglihatan, pendengaran, kinestesis, vestibular, perabaan, temperatur, rasa sakit, perasa, dan penciuman. Sumber  informasi  bisa  berasal  dari  dunia  luar  (eksternal),  atau  dari  dalam  diri  sendiri (internal).
Informasi  dari  luar  diindera  oleh  eksteroseptor,  sedangkah  informasi  dari  dalam diindera  oleh  interoseptor.  Selain  itu,  gerakan  tubuh  kita  sendiri  diindera  oleh proprioseptor. Semua  yang  menyentuh  alat  indera  baik  dari  dalam  ataupun  dari  luar  disebut stimuli. Batas minimal intensitas stimuli disebut ambang mutlak (absolut threshold).  Ketajaman  sensasi  juga  ditentukan  oleh  faktor-faktor  personal.  Perbedaan  sensasi  dapat disebabkan  oleh  perbedaan  pengalaman  atau  lingkungan  budaya,  disamping  kapasitas  alat indera yang berbeda.

2.  Persepsi

Persepsi  adalah  pengalaman  tentang  objek,  peristiwa,  atau  hubungan-hubungan  yang diperoleh  dengan  menyimpulkan  informasi  dan  menafsirkan  pesan.  Persepsi  ialah memberikan  makna  pada  stimuli  inderawi  (sensory  stimuli).  Sensasi  adalah  bagian  dari persepsi.  Meskipun  begitu,  menafsirkan  makna  inderawi  tidak  hanya  melibatkan  sensasi,tetapi juga atensi, ekspektasi, motivasi, dan memori. (Desiderato, 1976:129) Seperti  juga  sensasi,  persepsi  juga  ditentukan  oleh  faktor  personal  dan  faktor  situasional. David Krech dan Richard S Crutchfield menyebutnya faktor fungsional dan faktor struktural.

Faktor yang mempengaruhi persepsi :

Faktor eksternal penarik perhatian seperti gerakan, intensitas stimuli, kebaruan (novelty), pengulangan.
Perhatian yaitu proses mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli menjadi menonjol dalam kesadaran pada saat stimuli lainnya melemah. Apa  yang  kita perhatikan  ditentukan  oleh  faktor-faktor  situasional  dan  personal. 
Faktor  situasional terkadang  disebut  sebagai  determinan  perhatian  yang  bersifat  eksternal  atau  menarik perhatian  (attention  getter).  Sebuah  stimuli  diperhatikan  karena  memiliki  sifat-sifat  yang menonjol, antara lain
Gerakan = Manusia secara visual lebih tertarik pada objek-objek yang bergerak
Intensitas stimuli = Kita akan memperhatikan stimuli yang lebih menonjol daripada stimuli yang lainnya.
Kebaruan (Novelty) = Hal-hal yang baru, yang luar biasa, yang berbeda, akan menarik perhatian.
Perulangan = Hal-hal yang disajikan berkali-kali, bila disertai dengan sedikit variasi, akan menarik perhatian.

Faktor internal penarik perhatian adalah factor biologis yaitu factor kebutuhan biologis pada saat itu; dan factor sosiopsikologis yeng meliputi minat, kebiasaan, sikap. Biologis, sosiopsikologis

Faktor fungsional adalah yang berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu, kerangka acuan seseorang yang semuanya merupakan factor personal.

Faktor structural berasal dari sifat stimuli fisik dan efek fisiologis pada individu
Faktor  fungsional  berasal  dari  kebutuhan,  pengalaman  masa  lalu  dan  hal-hal  lain  yang termasuk yang kita sebut sebagai faktor-faktor personal. Yang menentukan persepsi bukanlah jenis  atau  bentuk  stimuli,  tetapi  karakteristik  orang  yang  memberikan  respons  pada  stimuli itu.  Dari  sini,  Krech  dan  Crutchfield  merumuskan  dalil  persepsi  yang  pertama:  persepsi bersifat  selektif  secara  fungsional.  Dalil  ini  berarti  bahwa  objek-objek  yang  mendapat tekanan  dalam  persepsi  kita  biasanya  objek-objek  yang  memenuhi  tujuan  individu  yang melakukan persepsi.
Faktor-faktor  fungsional  yang  mempengaruhi  persepsi  lazim  disebut  sebagai  kerangka rujukan. Wever dan Zener menunjukkan bahwa penilaian terhadap objek dalam hal eratnya bergantung  pada  rangkaian  objek  yang  dinilainya.  Kerangka  rujukan  mempengaruhi bagaimana  orang  memberi  makna  pada  pesan  yang  diterimanya.  Menurut  McDavid  dan Harari (1968:140), para psikolog menganggap konsep kerangka rujukan amat berguna untuk menganalisa interpretasi perseptual dari peristiwa yang dialami.
Faktor-faktor Struktural yang Menentukan Persepsi :
Faktor-faktor struktural berasal semata-mata dari sifat stimuli fisik dan efek-efek saraf  yang ditimbulkannya  pada  sistem  saraf  individu.  Menurut  teori  Gestalt,  bila  kita  mempersepsisesuatu,  kita  mempersepsinya  sebagai  suatu  keseluruhan.  Kita  tidak  melihat  bagian-bagiannya, lalu menghimpunnya.  Dari  prinsip  ini,  Krech  dan  Crutchfield  melahirkan  dalil  persepsi  yang  kedua:  medan perseptual dan kognitif selalu diorganisasikan dan diberi arti. Kita mengorganisasikan stimuli dengan  melihat  konteksnya.  Walaupun  stimuli  yang  kita  terima  itu  tidak  lengkap,  kita  akan mengisinya dengan interpretasi yang konsisten dengan rangkaian stimuli yang kita persepsi. 
Dalam  hubungannya  dengan  konteks,  Krech  dan  Crutchfield  menyebutkan  dalil  persepsi yang  ketiga:  sifat-sifat  perseptual  dan  kognitif  dari  substruktur  ditentukan  pada  umumnya oleh sifat-sifat struktur secara keseluruhan. Menurut dalil ini, jika individu dianggap sebagai anggota  kelompok,  semua  sifat  individu  yang  berkaitan  dengan  sifat  kelompok  akan dipengaruhi oleh keanggotaan kelompoknya, dengan efek yang berupa asimilasi atau kontras.

Asimilasi  terjadi  jika  sifat-sifat  kelompok  menonjolkan  atau  melemahkan  diri  individu. Sedangkan  kontras  terjadi  bila  kita  melihat  sifat-sifar  objek  persepsi  kita  bertolak  belakang dengan sifat-sifat kelompoknya.
Karena  manusia  selalu  memandang  stimuli  dalam  konteksnya,  dalam  strukturnya,  maka  ia pun  akan  mencoba  mencari  struktur  pada  rangkaian  stimuli.  Sturktur  ini  diperoleh  dengan jalan  mengelompokkan  berdasarkan  kedekatan  atau  persamaan.  Prinsip  kedekatan menyatakan bahwa stimuli yang berdekatan satu sama lain akan dianggap satu kelompok.  Dari prinsip ini, Krech dan Crutchfield menyebutkan dalil persepsi yang keempat: objek atau peristiwa yang berdekatan dalam ruang dan waktu atau menyerupai satu sama lain, cenderung ditanggapi sebagai bagian dari struktur yang sama.
Pada persepsi sosial, pengelompokkan tidak murni struktural, sebab apa yang dianggap sama atau berdekatan oleh seorang individu tidaklah dianggap sama atau berdekatan oleh individu yang lain. Kebudayaan juga berperan dalam melihat kesamaan. Pengelompokkan kultural erat kaitannya denga label; dan yang kita beri label yang sama cenderung dipersepsi sama.  Jadi, kedekatan dalam ruang dan waktu menyebabkan stimuli ditanggapi sebagai bagian dari struktur  yang  sama.  Sering  terjadi  hal-hal  yang  berdekatan  juga  dianggap  berkaitan  atau mempunyai  hubungan  sebab  akibat.  Menurut  Krech  dan  Crutchfield,  kecenderungan  untuk mengelompokkan stimuli berdasarkan kesamaan dan kedekatan adalah hal yang universal.
3.  Memori
Dalam komunikasi intrapersonal, memori memegang peranan penting dalam mempengaruhi baik  persepsi  (dengan  menyediakan  kerangka  rujukan)  maupun  berpikir.  Mempelajari memori  membawa  kita  pada  psikologi  kognitif,  terutama  pada  model  manusia  sebagai pengolah informasi.  Menurut  Schlessinger  dan  Groves,  memori  adalah  sistem  yang  sangat  berstruktur,  yang menyebabkan  organisme  sanggup  merekam  fakta  tentang  dunia  dan  menggunakan pengetahuannya  untuk  membimbing  perilakunya.  Menurut  John  Griffith,  kapasitas  memori manusia adalah sebesar seratus triliun bit.
Memori  melewati  tiga  proses:  perekaman,  penyimpanan,  dan  pemanggilan.
Perekaman (encoding)  adalah  pencatatan  informasi  melalui  reseptor  indera  dan  sirkit  saraf  internal.
Penyimpanan  (storage)  adalah  menentukan  berapa  lama  informasi  itu  berada  beserta  kita, dalam  bentuk  apa,  dan  dimana.
Penyimpanan  bisa  aktif  atau  pasif.  Kita  menyimpan  secara aktif bila kita menambahkan informasi tambahan. Kita mengisi informasi yang tidak lengkap dengan  kesimpulan  kita  sendiri.  Sedangkan  penyimpanan  pasif  adalah  tidak  adanya penambahan informasi.
Pemanggilan adalah menggunakan informasi yang disimpan, menggungkapkan kembali informasi apabila diperlukan.
Jenis-Jenis Memori
Pengingatan (Recall) proses aktif untuk mrnghasilkan fakta dan informasi secara verbatim/kata demi kata, tanpa petunjuk yg jelas.
Pengenalan (Recognition) untuk mrnginggat kembali sebuah fakta agak susah dibandingkan pengenalan kembali, dalam pengenalan ada petunjuk yang dijadikan acuan.
Belajar lagi (Relearning) menguasai kembali pelajaran yang pernah kita peroleh termasuk pekerjaan memori dengan menghafalkan kembali
Redintegrasi (Redintegration) merekontruksi seluruh masa lalu dari satu petunjuk memori kecil.


4.  Berpikir
Proses  keempat  yang  mempengaruhi  penafsiran  terhadap  stimuli  adalah  berpikir.  Dalam berpikir  kita  melibatkan  semua  proses  antara  lain  sensasi,  persepsi,  dan  memori.
Menurut Floyd  L.  Ruch,  berpikir  merupakan  manipulasi  atau  organisasi  unsur-unsur  lingkungan dengan menggunakan lambang-lambang sehingga tidak perlu langsung melakukan kegiatan yang  tampak.  Jadi,  berpikir  menunjukkan  berbagai  kegiatan  yang  melibatkan  penggunaan konsep dan lambang, sebagai pengganti objek dan peristiwa.
Berpikir  melibatkan  penggunaan  lambang,  visual  atu  grafis.  Berpikir  kita  lakukan  untuk memahami  realitas  dalam  rangka  mengambil  keputusan  (decision  making),  memecahkan persoalan  (problem  solving),  dan  menghasilkan  yang  baru  (creativity).  Memahami  realitas berarti  menarik  kesimpulan,  meneliti  berbagai  kemungkinan,  penjelasan  dari  realitas eksternal  dan  internal.  Secara  singkat,  Anita  Taylor  mendefinisikan  berpikir  sebagai  proses penarikan kesimpulan.
Ada  dua  macam  berpikir:  berpikir  autistik  dan  berpikir  realistik.
Dengan  berpikir  autistik orang  melarikan  diri  dari  kenyataan,  dan  melihat  hidup  sebagai  gambar-gambar  fantastis.
Berpikir realistik, disebut juga nalar (reasoning) adalah berpikir dalam rangka menyesuaikan diri  dengan  dunia  nyata.  Floyd  L.  Ruch  menyebut  tiga  macam  berpikir  realistik:  deduktif, induktif, dan evaluatif.
Berpikir  deduktif  adalah  mengambil  kesimpulan  dari  dua  pernyataan;  yang  pertama merupakan  pernyataan  umum.  Dalam  berpikir  deduktif,  kita  mulai  dari  hal-hal  umum  pada hal-hal  yang  khusus.
Berpikir  induktif  sebaliknya,  dimulai  dari  hal-hal  khusus  kemudian mengambil  kesimpulan  umum;kita  melakukan  generalisasi.  Ketepatan  berpikir  induktif bergantung  pada  memadainya  kasus  yang  dijadikan  dasar.  Berpikir  evaluatif  ialah  berpikir kritis,  menilai  baik  buruknya,  tepat  atau  tidaknya  suatu  gagasan.  Dalam  berpikir  evaluatif, kita tidak menambah atau mengurangi gagasan. Kita menilainya menurut kriteria tertentu.
Menetapkan Keputusan (Decision Making)
Keputusan  yang kita ambil beraneka ragam. Tapi ada tanda-tanda umumnya:
Keputusan merupakan  hasil  berpikir,  hasil  usaha  intelektual; 
Keputusan  selalu  melibatkan  pilihan dari  berbagai  alternatif;
Keputusan selalu melibatkan tindakan nyata, walaupun pelaksanaannya boleh ditangguhkan atau dilupakan.
Faktor-faktor personal amat menentukan apa yang diputuskan itu, antara lain kognisi, motif, dan sikap.
Memecahkan Persoalan (Problem Solving)
Proses memecahkan persoalan berlangsung melalui lima tahap:
Anda mula-mula mengatasinya dengan pemecahan yang rutin.
Anda mencoba menggali memori anda untuk mengetahui cara-cara apa saja yang efektif pada masa yang lalu.
Anda  mencoba  seluruh  kemungkinan  pemecahan  yang  pernah  anda  ingat  atau  yang pernah ada pikirkan.  Ini  disebut penyelesaian mekanis (mechanical solution) dengan uji coba (trial and error)
Anda mulai menggunakan lambang-lambang verbal atau grafis untuk mengatasi masalah.
Tiba-tiba  terlintas  dalam  pikiran  anda  suatu  pemecahan.  Kilasan  pemecahan  ini  disebut Aha Erlebnis (pengalaman Aha) atau insight solution.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Pemecahan Masalah :
Pemecahan  masalah  dipengaruhi  faktor-faktor  situasional  dan  personal.  Selain  itu  juga terdapat  faktor-faktor  biologis  dan  sosiopsikologis  yang  mempengaruhi  proses  pemecahan masalah. Faktor-faktor sosiopsikologis tersebut antara lain:
a.  Motivasi
b.  Kepercayaan dan sikap yang salah
c.  Kebiasaan
d.  Emosi
Berpikir Kreatif (Creative Thinking)
Berpikir menghasilkan metode-metode baru, konsep-konsep baru, pengertian-pengertian baru. Berpikir  kreatif  harus  memenuhi  tiga  syarat.  Pertama,  kreativitas  melibatkan  respons  atau gagasan  yang  baru,  atau  yang  secara  statistik  sangat  jarang  terjadi.  Kedua,  kreativitas  ialah dapat  memecahkan  masalah  secara  realistis.  Ketiga,  kreativitas  merupakan  usaha  untuk mempertahankan  insight  yang  orisinal,  menilai  dan  mengembangkannya  sebaik  mungkin (Mackinnon, 1962:485)
Proses Berpikir Kreatif
Para psikolog menyebutkan lima tahap berpikir kreatif:
Orientasi : masalah dirumuskan, dan aspek-aspek masalah diidentifikasikan.
Preparasi : pikiran berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang relevan dengan masalah.
Inkubasi : pikiran beristirahat sebentar, ketika berbagai pemecahan berhadapan jalan buntu tetapi pemecahan masalah terus berlangsung.
Iluminasi : masa inkubasi berakhir dan sebuah ilham pun didapatnya.
Verifikasi : tahap terakhir untuk menguji dan secara kritis menilai pemecahan masalah yang diujikan pada tahap keempat.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Berpikir Kreatif

Beberapa  faktor  yang  secara  umum  menandai  orang-orang  kreatif
Kemampuan kognitif : termasuk disini kecerdasan diatas rata rata, kemampuan melahirkan gagasan gagasan baru, dan fleksibilitas kognitif.
Sikap yang terbuka : orang kreatif mempersiapkan dirinya menerima stimuli internal dan eksternal; ia memiliki minat yang beragam dan meluas.
Sikap yang bebas, otonom, dan percaya pada diri sendiri : orang kreatif tidak senag digiring; ingin menampilkan dirinya sempunya dan semaunya.
2.1.2 Asumsi  Komunikasi Intrapersonal
Semua jenis komunikasi intrapersonal yang akan dilakukan oleh individu itu sebenarnya didatangkan pada konsep diri yang akarnya ada pada konsep diri, persepsi, dan ekspektasi. Intinya lahirnya komunikasi intrapersonal itu difokuskan pada peranan diri sendiri.
Komunikasi intrapersonal merupakan pondasi untuk melakukan komunikasi interpersonal. Mampu berdialog dengan diri sendiri berarti mampu mengenal diri sendiri. Suatu hal yang  penting bagi seseorang untuk mengenal diri sendiri. Belajar mengenai diri sendiri berarti belajar bagaimana kita berpikir, merasakan, dan bagaimana kita mengamati, menginterprestasikan dan mereaksi lingkungan kita. Dengan memahami komunikasi intrapersonal memudahkan kita untuk mengenal pribadi kita.

2.1.3 Teori-teori Komunikasi Intrapersonal; Pencetus Teori dan Latar
   Belakang Teori.

2.1.3.1 Teori Pengolahan Informasi (Information Processing Theory)
Teori belajar yang oleh Gagne (1988) disebut dengan ‘Information Processing Learning Theory’. Teori ini merupakan gambaran atau model dari kegiatan di dalam otak manusia di saat memroses suatu informasi. Karenanya teori belajar tadi disebut juga ‘Information-Processing Model’ oleh Lefrancois atau ‘Model Pemrosesan Informasi’. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu.
Ada beberapa macam kondisi internal dalam komunikasi intrapersonal;
Keadaan di dalam individu yang diperlukan untuk mencapai hasil pembelajaran
Proses kognitif yang terjadi dalam individu selama proses pembelajaran berlangsung
Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu :
Motivasi
Pemahaman
Pemerolehan
Penyimpanan
Ingatan kembali
Generalisasi
Perlakuan
Umpan balik
Dalam suatu kegiatan belajar, seseorang menerima informasi dan kemudian mengolah informasi tersebut di dalam memori. Pemrosesan informasi dalam memori manusia diproses dan disimpan dalam 3 (tiga) tahapan, yaitu Sensory Memory, Short-term Memory,dan Long-term Memory.
1. Sensory Memory (SM)
Informasi masuk ke dalam sistem pengolah informasi manusia melalui berbagai saluran sesuai dengan inderanya. Sistem persepsi bekerja pada informasi ini untuk menciptakan apa yang kita pahami sebagai persepsi. Karena keterbatasan kemampuan dan banyaknya informasi yang masuk, tidak semua informasi bisa diolah. Informasi yang baru saja diterima ini disimpan dalam suatu ruang sementara (buffer) yang disebut sensory memory. Durasi suatu informasi dapat tersimpan di dalam sensory memory ini sangat singkat, kurang dari 1/2 sekon untuk informasi visual dan sekitar 3 sekon untuk informasi audio. Tahap pemrosesan informasi tahap pertama ini sangat penting karena menjadi syarat untuk dapat melakukan pemrosesan informasi di tahap berikutnya, sehingga perhatian pembelajar terhadap informasi yang baru diterimanya ini menjadi sangat diperlukan. Pembelajar akan memberikan perhatian yang lebih terhadap informasi jika informasi tersebut memiliki fituratau ciri khas yang menarik dan jika informasi tersebut mampu mengaktifkan pola pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (prior knowledge).

2. Short-term Memory (STM) atau “Working Memory”
Short-term memory atau working memory berhubungan dengan apa yang sedang dipikirkan seseorang pada suatu saat ketika menerima stimulus dari lingkungan. Durasi suatu informasi tersimpan di dalam short-term memory adalah 15 – 20 sekon. Durasi penyimpanan di dalamshort-term memory ini akan bertambah lama, bisa menjadi sampai 20 menit, jika terdapat pengulangan informasi. Informasi yang masuk ke dalam short-term memory berangsur-angsur menghilang ketika informasi tersebut tidak lagi diperlukan. Jika informasi dalamshort-term memory ini terus digunakan, maka lama-kelamaan informasi tersebut akan masuk ke dalam tahapan penyimpanan informasi berikutnya, yaitu long-term memory.
3. Long-term Memory (LTM)
Long-term memory merupakan memory penyimpanan yang relatif permanen, yang dapat menyimpan informasi meskipun informasi tersebut mungkin tidak diperlukan lagi. Informasi yang tersimpan di dalam long-term memory diorganisir ke dalam bentuk struktur pengetahuan tertentu, atau yang disebut dengan schema. Schema mengelompokkan elemen-elemen informasi sesuai dengan bagaimana nantinya informasi tersebut akan digunakan, sehingga schema memfasilitasi akses informasi di waktu mendatang ketika akan digunakan (proses memanggil kembali informasi). Dengan demikian, keahlian seseorang berasal dari pengetahuan yang tersimpan dalam bentuk schema di dalam long-term memory, bukan dari kemampuannya untuk melibatkan diri dengan elemen-elemen informasi yang belum terorganisasi di dalam long-term memory.
Penyimpanan informasi dalam long-term memory dapat diumpamakan seperti peristiwa yang terjadi pada penulisan data ke dalam disket atau hardisk komputer atau pun perekaman suara ke dalam kaset. Kapasitas penyimpanan dalam long-term memory ini dapat dikatakan tak terbatas besarnya dengan durasi penyimpanan seumur hidup. Kapasitas penyimpanan disebut tak terbatas dalam arti bahwa tidak ada seseorang pun yang pernah kekurangan “ruang” untuk menyimpan informasi baru, berapa pun umur orang tersebut. Durasi penyimpanan seumur hidup diartikan sebagai informasi yang sudah masuk di dalam long-term memory tidak akan pernah hilang, meskipun bisa saja terjadi informasi tersebut tidak berhasil diambil kembali (retrieval) karena beberapa alasan.
Teori ini menyatakan bahwa informasi mula-mula disimpan pada sensory storage (gudang inderawi), kemudian masuk short-term-memory (STM) lalu dilupakan atau dikoding untuk dimasukkan ke dalam long-term-memory (LTM). Otak manusia dianalogikan dengan komputer.
Terdapat dua macam memori: memori ikonis untuk materi yang kita peroleh secara visual, dan memori ekosis untuk materi yang masuk secara auditif (melalui pendengaran). Penyimpanan disini berlangsung cepat, hanya berlangsung sepersepuluh sampai seperempat detik.
Supaya dapat diingat, informasi harus dapat disandi (encoded) dan masuk pada STM. STM hanya mampu mengingat tujuh (plus atau minus dua) bit informasi. Jumlah bit informasi disebut rentangan memori (memori span). Untuk meningkatkan kemampuan STM, para psikolog menganjurkan kita untuk mengelompokkan informasi; kelompoknya disebut chunk.
Bila informasi dapat dipertahankan pada STM, ia akan masuk pada LTM. Inilah yang umumnya disebut sebagai ingatan. LTM meliputi periode penyimpanan informasi sejak semenit sampai seumur hidup. Kita dapat memasukkan informasi dari STM ke LTM dengan chunking, rehearsals, clustering, atau method of loci.
Menurut teori Gagne, hasil pembelajaran merupakan keluaran dari pemrosesan yang berupa kecakapan manusia (Human Capabilities) yang terdiri atas:

1. Informasi Verbal
Informasi verbal adalah hasil pembelajaran yang berupa informasi yang dinyatakan dalam bentuk verbal (kata-kata atau kalimat) baik secara tertulis atau lisan. Informasi verbal adalah berupa pemberian nama atau label terhadap suatu benda atau fakta, pemberian definisi atau pengertian, atau perumusan mengenai berbagai hal dalam bentuk verbal.
2. Kecakapan Intelektual
Kecakapan intelektual adalah kecakapan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungan yang menggunakan simbol-simbol. Misalnya simbol-simbol dalam bentuk matematik, seperti penambahan, pengurangan, pembagian, perkalian dan sebagainya. Kecakapan intelektual ini mencakup kecakapan dalam membedakan (diskriminasi). Konsep intelektual sangat diperlukan dalam menghadapi pemecahan masalah.
3. Strategi Kognitif
Strategi kognitif ialah kecakapan individu untuk melakukan pengendalian dan mengelola keseluruhan aktifitasnya. Dalam proses pembelajaran, strategi kognitif ini kemampuan mengendalikan ingatan dan cara-cara berfikir agar terjadi aktifitas yang efektif. Kalau kecakapan intelektual lebih banyak terarah kepada proses pemikiran pelajar. Strategi kognitif ini memberikan kemudahan bagi para pelajar untuk memilih informasi verbal dan kecakapan intelektual yang sesuai untuk diterapkan selama proses pembelajaran dan berfikir.
4. Sikap
Sikap ialah hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih berbagai tindakan yang akan dilakukan. Dengan kata lain, sikap dapat diartikan sebagai keadaan didalam diri individu yang akan member arah kecenderungan bertindak dalam menghadapi suatu objek atau rangsangan. Dalam sikap terdapat pemikiran, peradaan yang menyertai pemikiran, dan kesiapan untuk bertindak.
5. Kecakapan Motorik
Kecakapan motorik ialah hasil pembelajaran yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik.
Dalam pemrosesan informasi terdapat hambatan-hambatan. Berdasarkan (Cermak & Craik, dalam Craik & Lockhart, 2002), hambatan teori pemrosesan informasi antara lain:
Tidak semua individu mampu melatih memori secara maksimal.
Proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung.
Tingkat kesulitan mengungkap kembali informasi-informasi yang telah disimpan dalam ingatan.
Kemampuan otak tiap individu tidak sama.
Selain itu teori ini membahas juga tentang input, pemrosesan, penyimpanan dan pencarian kembali informasi pada diri manusia. (Chaplin, 2008). Pada input, otak bergantung pada penginderaan untuk menemukan informasi yang berasal dari perangsang lingkungan, dan menyalurkannya ke dalam impuls saraf. Saraf sensoris dan jalan penyalurnya lewat urat saraf tulang belakang dan pusat-pusat subkortikal, dapat disamakan dengan saluran di dalam mesin, cuma memiliki satu kapasitas saluran saja (Chaplin, 2008).
Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran.
Berdasarkan temuan riset linguistik, psikologi, antropologi dan ilmu komputer, dikembangkan model berpikir. Pusat kajiannya pada proses belajar dan menggambarkan cara individu memanipulasi simbol dan memproses informasi.

2.1.3.2 Teori Interferensi (Interference Theory)
Teori Interferensi adalah teori psikologis yang menjelaskan tentang beberapa fitur dari memori. Ini menyatakan bahwa gangguan terjadi kita belajar tentang hal-hal yang baru, yang menyebabkan ingatan yang pernah kita simpan didalam otak itu bisa tergangu, akibat dari itu semua adanya persaingan antara ingatan yang baru masuk dengan ingatan yang sudah lama yang ada didalam otak kita.
Bergstrom (1892) psikolog Jerman, yang melakukan studi pertama tentang interferensi. Eksperimen ini mirip dengan Stroop tugas dan mata pelajaran yang diperlukan untuk menyortir dua deck kartu kata-kata ke dua tumpukan. Ketika lokasi berubah untuk tumpukan kedua, menyortir itu akan lebi lambat. Ini menyebabkan sorting aturan pertama menggangu belajar aturan baru.
Pada tahun 1924, James J. Jenkins dan Dallenback menunjukkan bahwa pengalaman sehari-hari dapat mengganggu memori dengan percobaan yang mengakibatkan retensi yang lebih baik selama periode tidur daripada atas jumlah waktu yang sama yang ditujukan untuk aktivitas.
Teori interferensi terbagi menjadi tiga jenis utama yang sangat mempengaruhi proses psikologis seseorang, diantaranya adalah;
1. Proaktif
2. Retroactive
3. Output
Shiffrin (1970) memori merupakan meja lilin atau kanvas. Pengalaman adalah lukisan pada meja lilin atau kanvas itu. Pada kanvas itu sudah terlukis hukum relativitas. Segera setelah itu Anda mencoba merekam hukum medan gabungan. Yang kedua akan menyebabkan terhapusnya rekaman yang pertama atau mengaburkannya. Inilah yang disebut interfensi. Misalkan, anda menghafal halaman pertama dalam kamus inggris-indonesia kemudian anda berhasil. Teruskan ke halaman kedua. Dan berhasil juga, tetapi yang di ingat pada halaman pertama akan berkurang. Ini yang disebut inhibisi retroaktif (hambatan kebelakang). Beberapa experimen menunjukan bahwa pelajaran yang dihafal sebelum tidur lebih awet dalam ingatan kita dari pada pelajaran yang dihafal sebelum kegiatan-kegiatan lain.
Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa ingatan atau rekaman kita dalam otak itu ada batasan. Rekaman yang kita dalam otak itu memiliki kemampuan penyimpanan yang terkadang bisa kehapus rekaman itu jika di isi dengan rekaman yang lain. Disinalah terjadi interferensi. Kaitan dengan komunikasi intrapersonal terkadang seseoarang yang berbicara di depan public, biasanya seseorang secara tiba-tiba lupa dengan apa yang ingin dia sampaikan, sebenarnya itu terjadi karena kita merekam terlalu banyak atau juga bisa di sebabkan rekaman kita kurang kuat di dalam otak kita.

The Decay Theory (Teori Peluruhan)
Teori peluruhan menyatakan bahwa memori memudar karena berlalunya waktu. Teori Peluruhan pertama kali diciptakan oleh Edward Thorndike dalam bukunya The Psychology of Learning  pada 1914. Teori ini menyatakan bahwa jika seseorang tidak mengakses dan menggunakan representasi memori, hal itu membentuk jejak memori yang akan memudar atau membusuk dari waktu ke waktu.
Teori Peluruhan menyatakan bahwa memori memudar karena berlalunya waktu. Oleh karena itu informasi hilang dengan berjalannya waktu serta kekuatan memori, menipis. Ketika seseorang belajar sesuatu yang baru, maka jejak memori dibuat. Namun, seiring berjalannya waktu,  jejak ini perlahan-lahan akan hancur.
Secara aktif berlatih mengingat informasi diyakini menjadi faktor utama menangkal peluruhan ingatan. Hal ini dipercaya karena neuron mati secara bertahap karena usia, namun beberapa kenangan yang lebih tua dapat lebih kuat dari kenangan yang terbaru. Dengan demikian, teori peluruhan sebagian besar mempengaruhi sistem memori jangka pendek, yang berarti kenangan yang lebih tua (dalam memori jangka panjang) lebih tahan terhadap guncangan atau serangan fisik pada otak.
Hal ini menyatakan bahwa perjalanan waktu saja tidak dapat menyebabkan lupa, dan Teori Peluruhan juga harus memperhitungkan beberapa proses yang terjadi pada lebih banyak waktu yang berlalu.
Asumsi dasar teori peluruhan adalah bahwa memori menjadi semakin pudar dengan berlalunya waktu bila tidak pernah diulang kembali. Informasi yang disimpan meninggalkan jejak-jejak memori yang bila dalam jangka waktu lama tidak ditimbulkan kembali dalam kesadaran, maka akan rusak atau menghilang.